Saturday, December 19, 2015

Sekilas Malam Perpisahan

Hujan tolong tetap bersamaku malam ini
Dinginmu masih ingin kurasakan
Untuk menutupi gelak ria perpisahan
Antara waktu dan dunia

Di sudut ruangan ini aku bercerita
Tentang ketidakpastian
Perpisahan ini hanya awal
Dari sebuah ketidakpastian

Hujan, bisakah aku berdoa padamu
Demi aku yang ingin bersenandung
Kau adalah musiknya
Kabulkanlah

Untuk sebuah pertemuan
Antara ragaku dengan diriku yang sebenarnya

Wednesday, December 16, 2015

Merry Kissmas

Jakarta adalah jantung dan ibukota negara ini. Menjadikan kota tersibuk yang pernah ada. Populasi yang begitu banyak di dalamnya membuat banyak orang menambuh nasib di sini. Memasuki bulan Desember ibukota penuh dengan ornamen natal dan tahun baru di mana-mana. Membuat bulan ini penuh kerlap-kerlip dan harapan yang muncul setiap tahunnya.

Begitu pun denganku.

Aku memang tak pernah merayakan natal, hanya saja temanku selalu mengajakku jalan di malam natal. Tiap tahun aku selalu menunggunya, sudah menjadi kebiasaan kami merayakannya dengan cara yang lain. Semacam tahun kemarin kami melakukan kompetisi memotret hingga tengah malam. Kami mengitari kota Jakarta berdua dan memotret banyak momen di tengah hiruk pikuknya kota.

Tahun ini aku menunggu apa lagi yang akan kami lakukan di malam natal. Sebenarnya ada satu yang aku inginkan di natal tahun ini.

Aku ingin menciumnya.

Terdengar aneh bukan, tetapi aku sadar bahwa dirinya sangat berarti buatku setiap tahunnya. Tak hanya di hari natal, aku benar-benar ingin mengungkapkan rasa itu padanya. Yup, dengan menciumnya.

Entah mengapa setiap melihat temanku ini aku selalu melihat bibirnya yang menurutku kissable sekali. Mungkin terdengar sedikit pervert, tetapi aku selalu tak tahan melihat bibirnya.  Jadi malam natal nanti aku ingin sekali menciumnya, merasakan lembut bibirnya walau hanya sekilas.

"Kau dengar tidak? Kita ke bioskop nanti malam, nonton."

"Eh, aah iya-iya."

Aku sampai tak mendengar temanku ini berbicara tentang rencana kami malam natal nanti.

Malam itu pun datang. Kami berdua dengan semangat pergi ke bioskop di kota, menonton film yang sudah dia tunggu-tunggu dari beberapa bulan lalu. Temanku ini paling semangat bahkan sudah membeli tiketnya lewat mobile.

Kami menonton sekitar 90 menit, kami pun keluar teater.

"Seru bukan?"

"Hmm, lumayan."

Sudah hampir tengah malam, kami pun pulang ke rumah dengan jalan yang memutar. Dalam artian sebelum sampai rumah kami pergi menikmati angin malam natal hari ini. Menikmatinya berdua, hingga aku merasa darahku mengalir deras.

Sesampai di depan rumahku aku turun dari mobil sedannya. Begitu pun temanku ini.

"Ada apa Sha?"

Aku hanya mendekatinya saat ia bertanya. Hingga wajah kami hanya terpaut beberapa senti saja. Napasnya terasa di wajahku begitu pun sebaliknya. Dengan lembut aku mendekati bibirnya.

Lembut.

Tak ada tanda penolakan, malam natal ini begitu lengkap sudah. Apapun yang terjadi setelah ini, setidaknya aku mengungkapkannya. Lengkap sudah.

Aku pun perlahan mulai mundur dan tersipu malu menatapnya.

"Terima kasih untuk malam ini, Na."


Tuesday, December 15, 2015

Kembalilah

Daun-daun kering melayang jatuh ke dasar
Angin melambai sejuk menelusuri jalan
Damai bibirmu saat kukecup lembut
Anganku bersamamu menjelajahi malam

Sinar rembulan bernyanyi merona
Menerangi hatimu yang capai
Detik seakan hilang dalam kamus
Bila dirimu hadir bersamaku

Malam tidak berbintang
Sejauh itu rasa cintaku
Dirimu tak perlu tahu
Caraku memetik bintang
Hanya untukmu

Dan pagi datang dengan tersenyum
Merenggut semua keindahan yang berkelip
Kamu terbangun di pelukku
Aku berharap begitu setiap pagi

Hanyut aku dalam kenyataan pahit

-2015-

Tahun 2015 sudah mendekati akhir. Tak banyak yang terjadi dalam tahun 2015 untuk saya pribadi. Tahun ini bisa saya bila menjadi tahun merenungku, tahun membebaskan, tahun penyembuhan akan apa yang telah terjadi. Tak banyak yang kudapat dari tahun ini, bahkan aku meragukannya. Aku tahu apa yang telah terjadi di sini, dalam hidupku. Dari aku yang mengecewakan banyak orang hingga aku yang sedang mengintropeksi diri.

Awalnya aku berteguh diri mengambil keputusan ini. Kembali untuk fokus pada impian yang telah kutetapkan dan kukejar. Hanya saja tak sebegitu mudah yang dibayangkan. Aku sadar bahwa aku sudah tertinggal di belakang dengan orang-orang yang menurutku sangat hebat. Teman-teman sebaya, orang-orang di lingkunganku, dan bahkan orang-orang yang belum pernah kutemui tetapi aku mengenal karya mereka.

Target tahun 2015 ini untuk menyelesaikan satu novel pun mungkin terancam tak tercapai. Bahkan dengan waktu yang sebanyak ini telah kupunya aku tak bisa menyelesaikannya. Aku sadar bahwa aku sedang di performa terburukku. Hingga muncul rasa takut, tak percaya diri, hingga rasa bersalah. Aku merasa bersalah pada diriku sendiri yang membuang-buang waktuku selama setahun ini, hal ini membuat motivasiku menurun.

Tak seperti yang kubayangkan di awal.

Saat ini aku sadar bahwa aku telah tertinggal oleh banyak orang begitu pun performaku yang menurun. Hingga aku berpikir apa aku memang tidak bisa menulis sebuah cerita lagi? Apa aku memang tak bisa menulis? Apa mungkin penulis bukan ide yang tepat? Aku merenungkan hal-hal semacam itu di tahun ini.

Beberapa bulan lalu aku mendapat sebuah surat yang mengingatkanku bahwa sudah dua tahun aku tak menghasilkan novel lagi sejak novel pertamaku, BaseLove. Surat yang mempunyai dua mata pisau. Di satu sisinya aku sadar bahwa menjadi seorang penulis itu tak sesimpel dan semudah itu. Hal ini membuatku sedikit membakar motivasiku. Di sisi yang lain aku sadar aku telah mengecewakan diriku sendiri dan banyak orang. Itu membuatku sedih.

Dan entah mengapa datang di saat yang tidak tepat. Di saat performa terburukku. Aku mulai meragukan keputusan yang kubuat. Dan entah mengapa pula di sisi yang lain aku seperti tertampar dan ingin mulai bersemangat lagi. Ingin membuat keputusan yang kubuat ini adalah hal yang tepat dan benar. Setidaknya untuk ku pribadi, aku tahu banyak yang menilai keputusan ini salah.

Jalan ku masih panjang. Aku belum merasa puas dengan aku yang sekarang, itu jelas. Aku berusaha membenah diriku untuk tahun 2016. Rasanya aku merasakan sedikit harapan di tahun 2016 nanti. Banyak yang ingin kulakukan, dari menyelesaikan novel hingga ingin mengerjakan tentang Nest Stripes yang akhir-akhir ini sedang aku siapkan.

Aku berharap 2016 ini akan menjadi tahun yang benar-benar baru untukku. Tahun penataan kembali, tahun penyempurnaan, dari tahun 2015 ini.

SEMANGAT!!!


note: mungkin aku akan rajin-rajin nulis di blog. ssst, aku tak akan sharing ke medsos. rajin-rajinlah datang ke blogku :p.

Saturday, November 21, 2015

Next to Me

Kamar ini terlalu megah untuk gue. Gue bahkan kaget saat diajak ke sini, tak percaya bahwa klien kali ini ternyata benar-benar berduit. Gue mengambil ponsel  di coffee table dekat kasur, memeriksa jam. Jam dua dini hari, ternyata sudah sejam berada di kamar ini. Di kamar mandi terdengar air gemercik, laki-laki yang gue lupa namanya, entah Fredie atau Fendi sepertinya sedang membilas tubuh. Gue tanpa sengaja melihat segepok uang yang dia siapkan tadi di atas coffee table. Gue mengambilnya malas dan gue tak perlu menghitungnya kembali. Bisa menyewa kamar megah seperti ini tak mungkin tidak bisa membayar atas permainan yang hampir sejam barusan.
Sepertinya laki-laki yang sedikit bertambun itu sudah selesai dengan kamar mandinya. Gue juga mendengar pintu kamar terbuka dan tertutup. Sepertinya laki-laki tersebut sudah meninggalkan kamar ini dan gue sendirian sekarang. Gue hanya perlu check out pagi nanti dan menyuruh Boy untuk menjemput. Selama waktu itu gue tak bisa tertidur bahkan sesudah membilas tubuh sekalipun, karena sangat disayangkan bila kamar ini hanya untuk ditiduri saja. Kapan lagi coba menikmati sebotol wine yang disiapkan klien gue saat ditawari pihak hotel tadi. Maka dari itu gue sudah mengirim pesan untuk Boy untuk menjemput nanti pagi.
Saat pagi datang dengan sisa-sisa alcohol yang ada gue bersiap keluar dari kamar ini dan check out. Boy juga sudah berkali-kali menelepon dan tak gue angkat, sepertinya ia sudah berada di lobby. Benar saja, Boy langsung menghampiri saat selesai dengan resepsionis.
“Wow-wow, aku mencium alcohol. Kau minum?” ucapnya pertama kali, salahkan dia yang benar-benar mencari klien yang berduit dan tahu caranya menghamburkan uangnya.
“Salahkan klien yang kamu temui itu, dia benar-benar boros. Gue hampir menghambiskannya setengah botol.”
“Tapi gak lupakan sama bagianku, sepuluh persennya,” ucapnya menyebalkan dengan menengadah tangan kanannya.
Gue langsung mengambil amplop di tas jinjing yang sudah disiapkan atau disisihkan hasil uang yang gue dapat untuknya. Tak lama setelah itu gue tak begitu ingat karena mungkin gue tertidur dan juga efek alcohol gue sudah berada di kamarnya. Gue melihat Boy yang sedang meletakkan masakannya di meja makan.
“Sudah bangun? Ini ada sop gitu, makan yuk!”
Mau gak mau gue berjalan dan duduk manis di hadapannya. Gue pun menyuapkan sendok ke dalam mulut, mengunyahnya. Masakannya Boy selalu bisa membuat gue nambah hingga tak sadar bahwa berat badan juga ikut nambah. Perlahan sakit kepala gue juga mulai hilang.
“Kamu tahu, sebenarnya kamu bisa saja berhenti dari ini semua kalau mau, Raina.”
Gue tak tahu tiba-tiba saja Boy mengatakan ini. Padahal dia sendiri di awal yang menawari semua ini terlebih lagi gue memang butuh duit. Siapa sih yang tak butuh duit sekarang ini? Semua hal butuh duit. Begitu pula Boy, gue yakin dia butuh duit juga.
“Aku dapat banyak masukan dari beberapa klien kalau kamu ini terkadang mengintimidasi mereka akhir-akhir ini.”
Di sini sudah tak masuk akal menurut gue. Mereka menikmatinya dan mereka bilang begitu padanya? Apa sih semua laki-laki ini?
“Jadi kamu suruh gue berhenti?” tanya gue tak sabar.
“Bukan kamu, tapi kita. Aku juga akan berhenti, Raina.”
“Kenapa?” tanya gue kali ini kaget mendengar pernyataan tersebut.
“Aku ini cuma seorang amatir, Raina. Di luar sana masih banyak yang lebih professional dariku. Terlebih lagi aku merasa bersalah melihatmu yang sekarang, Raina.”
Gue benar-benar tak mengerti semua ini. Rasanya yang ia katakan ini terasa non-sense. Ia bersalah akan apa? Di luar banyak yang lebih professional, so what? Who care about it? Selama uang masuk gue gak mempermasalahkan hal tersebut.
“Kamu ingat pertama kali kamu datang dan bercerita tentang masalahmu dengan uang. Saat itu aku berharap bahwa aku tidak membeberkan identitasku ini. Sayangnya aku menawarkannya dan kamu menerimanya dengan entengnya. Aku menyesal karena itu.”
Gue mulai gak nafsu nambah makan lagi. Sayang saja nasi yang gue ambil tersiakan begitu saja. Ini benar-benar gak masuk akal.
“Menyesal bagaimana, kamu dapat bagiannya juga kan?”
“Ini yang aku maksud, Raina. Kamu hanya memikirkan uang saja. Kamu sudah berubah, Raina dan aku tanpa sadar ikut campur akan hal itu.”
Boy yang tetap menatap dengan tatapannya itu membuat gue merasa tak tahu akan maksud dari semua pembicaraan ini. Gue pun berdiri dan segera bergegas mengambil tas, ingin rasanya keluar dari apa yang sedang terjadi di sini. Boy masih setia di tempatnya sambil mengamati, seakan membiarkan gue begitu saja.
Setelah semua siap, gue berjalan ke arah pintu. Gue menatap jam tangan yang berdetik ke arah jam setengah sepuluh. Gue baru menyadari bahwa masih pagi hari, kamar ini terlalu tertutup untuk mengetahui hal tersebut.
“Sepertinya jalan kita sudah berbeda kali ini, aku tak akan mencarimu,” ucap Boy di tempatnya sambil mengamati gue yang sedang memakai high heels.
Ya, selamat tinggal, Boy. Ucap gue dalam hati dan pergi dari kamar itu tanpa meninggalkan sepatah katapun lagi

***

Seminggu lebih sudah gue tak melihat Boy, pendapatan pun makin buruk adanya. Gue harus mencari klien sendiri. Tak segan pula gue pergi ke klub-klub malam atau bahkan berjalan-jalan di tempat para saingan gue mentereng. Ternyata cukup sulit terlebih lagi saingan di luar sana ternyata memang cukup banyak.
Rasanya gue mulai merasa sendirian dalam hingar bingar lampu yang berkelap-kelip. Musik yang berdentum keras pun tak terasa menemani gue sama sekali. Segelas Martini cukup terasa lebih pahit dari biasanya. Cukup sayang bila tidak dihabiskan pikir gue, hari ini cukup melelahkan pikiran.
Apa yang sedang dilakukan Boy sekarang?
Tidur?
Atau bahkan sedang berada di tempat seperti ini sekarang?
Mengapa gue memikirkannya?
Gue pun mendesah memikirkannya. Apa memang benar yang dikatakan Boy tempo hari? Bahwa gue sudah berubah, gue mencari-cari apa yang berubah setelah perkataannya tersebut. Semakin gue mencari semakin membuat gue tersesat di pikiran sendiri.
Rasanya situasi seperti sekarang ini juga sudah bisa dikatakan sudah berubah. Bahkan gue merasa asing di tempat yang sudah berkali-kali gue kunjungi ini. Musik EDM pun terasa tak sekeras biasanya. Semua terasa berubah hanya dalam jangka beberapa hari ini saja.
“Hai!” tetiba gue mendengar ada yang menyapa.
Sejak kapan laki-laki ini berada di samping gue? Gue bahkan tak menyadari sekeliling sekarang? Gue hanya bisa tersenyum membalas sapaannya.
“Sendiri?”
Gue mengangguk, apa perlu gue berusaha dengan laki-laki ini. Dari penampilannya yang cukup berkilau di mana-mana rasanya cukup tebal dompetnya. Gue bahkan melihat kalung emasnya tersebut. Dari baunya pun gue mencium rasa yang cukup familiar dengan klien-klien gue yang lain.
“Gak ke lantai dansa?” tanyanya lagi, sepertinya laki-laki yang cukup sering bertanya. Itu pertanda baik bukan? Gue rasa kami akan berakhir di tempat tidur, pikir gue.
“Sudah tadi. Sepertinya kamu baru di sini ya?”
“Ya, baru beberapa menit yang lalu.”
Gue melihat segelas Vodka di hadapannya. Gue rasa memang benar dugaan tadi. Perlu dicoba menariknya untuk berminat.
“Mau tambah minum, biar gue yang bayar,” ucapnya setelah melihat gelas martini yang sudah setengahnya gue minum.
“Gak usah, ini saja belum habis,” kata gue sambil mengambil gelasnya dan meneguknya beberapa teguk.
Baru saja ingin menanyakan akan ke mana setelah ini, tetapi kepala gue mulai berat. Tatapan gue mulai kabur. Terasa berputar-putar, apa ini? Belum sempat gue sadari, badan mulai ikutan lemas. Laki-laki barusan seperti terlihat berteriak mengatakan sesuatu, gue tak mendengarnya. Semua indra tak berfungsi sebenarnya. Sebelum semuanya gelap gue melihat laki-laki itu tersenyum.
Damn.

***

Gue membuka mata perlahan dan melihat sosok manusia yang menyerupai binatang buas sedang menyiksa. Gue pun tanpa sadar mengerang kesakitan berkali-kali, tanpa sadar mata mulai berair dan begitu saja mengalir. Saat itu yang gue terpikirkan hanya Boy, tanpa sadar gue memanggilnya dalam erangan kesakitan ini.
Gue tak memikirkan ada di mana ini dan sebagai macamnya. Gue hanya ingin terlepas dari binatang buas ini. Berkali-kali melepaskan diri, binatang buas ini memukuli wajah gue. Berkali-kali hingga pada akhirnya gue tak dapat melakukan apa pun.
Saat sebelum tak sadarkan diri yang terbesit di bayangan gue hanya Boy.
Hingga pandangan gue hilang, kalimat itu akhirnya terucap.
Tolong gue, Boy!

***

Badan gue terasa sakit sekali. Gue membuka mata perlahan. Baru sedikit gue gerakan, badan terasa perih dan sakit. Angin yang berhembus membuatnya tambah perih dan menyayat, dingin. Gue sadar apa yang terjadi, binatang buas itu tak terlihat. Gue melihat sekeliling, tak tahu akan di mana ini berada. Semacam gudang yang tak dirawat.
Dengan sekuat tenaga gue menahan sakit memar di wajah, gue mengambil ponsel yang terlihat terdampar di samping. Dengan gemetar gue mengambilnya dan memencet layar pada angka dua, speed dial yang gue simpan.
Boy.
Tak diangkat.
“Boy, maaf. Gue, gue, tolong gue, Boy,” ucap gue sembari terisak menahan sakit. Semoga pesan suara ini didengar olehnya
Tak lama dia menelepon balik. Gue mengangkatnya dan tangis itu meledak begitu saja, gue mendengar Boy yang menyuruh tenang. Gue tak bisa, sakit ini terasa sangat-sangat menyakitkan. Berkali-kali kata maaf dan tolong terlontarkan selama air mata ini mengalir.
“Oke-oke, aku  ke sana sekarang. Kamu bisa kirim lokasi lewat ponselmu, kan? Aku ke sana sekarang,” ucapnya terdengar cemas.
Gue melakukan apa yang Boy minta, gue mengirimkan lokasi map padanya. Setelah itu pandangan gue mulai kabur dan hilang.
Begitu membuka mata perlahan gue menatap sekeliling yang serba putih. Cairan mineral tergantung di samping dengan selang yang ujungnya berakhir di lengan kiri. Dengan berat gue menatap kanan dan menemukan Boy yang tidur tertunduk di kasur.
Tanpa sadar gue mulai terisak melihatnya.
Gue merasa bersalah telah menghubunginya lagi dalam keadaan seperti ini. Yang lebih bersalahnya lagi dia menolong gue setelah apa yang terjadi tempo hari di kamarnya itu. Perpisahan yang ia ucapkan.
Boy terbangun karena isakan gue.
“Kenapa? Ada yang sakit? Aku panggil dokter dulu,” ucapnya bingung melihat gue menangis.
Gue menahan tangannya. Boy berhenti, menatap gue yang kembali terisak setelah melihat tatapannya yang hangat itu.
Gue menutup mata dengan tangan kiri, gue tak berhak mendapatkan tatapan itu setelah apa yang telah terjadi.
“Maaf, maaf, maaf,  maaf,” ucap gue berkali-kali, tak tahu tertuju pada siapa.
Entah dirinya atau bahkan untuk gue sendiri.
Boy mengusap kepala gue berkali-kali seiring kata maaf yang gue lontarkan berkali-kali. Dirinya berusaha menenangkan gue.
“Itu sudah cukup, Raina. Asal kamu sudah memaafkan dirimu sendiri, itu tandanya kamu sudah peduli pada dirimu sendiri. Itu sudah cukup, Raina,” ucapnya begitu terasa menghangatkan. Gue makin lepas menangis dan lega begitu mendengarnya.
Boy di samping sambil menggenggam tangan gue. Itu sudah cukup untuk gue.
Itu sudah lebih dari cukup.
Benar kan, Boy?

The End
---------------------------


Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com danNulisbuku.com

Saturday, November 14, 2015

Jarak Kita

Aku menatap senja sore itu, sinar jingga itu terlihat indah. Kamu tahu mengapa? Karena sore itu kamu begitu bahagia. Senyum tak bisa lepas dari wajahmu, sore itu aku ikut bahagia karena melihatnya. 

Kemudian aku menatap bintang malam sesudah hari itu. Berkelip sendu, kamu tahu mengapa? Karena malam itu kamu begitu lepas, sangat terbalik dengan sehari yang lalu. Air matamu bersarang di sehelai kain kemejaku.

Dan kemarin kamu datang secepat badai angin saat itu. Berantakan, membawa benda tajam itu di tanggan kananmu. Mengarahkannya ke wajahku, aku berdiam diri menatapmu. Tanganmu kugenggam erat. 

Bila kalau aku pergi, di hadapanku hanya cuma kamu.
Berhentilah, aku rindu. 

Sore ini sinar jingga tampak redup. Senyummu terlihat pilu. Begitu juga aku.

Lalu, bila kamu pergi siapa yang akan ada di hadapanku kini?

Thursday, September 24, 2015

Blue Rain


Kopi hitam pekat di depanku menguap
Menyesuaikan udara yang dingin di luar
Menemanimu yang menari indah di bawah guyuran hujan
Seakan patah hatinya menghilang sehembusan napas

Irama yang mendayu menemani kami
Berharap aku mempunyai detak yang sama
Percayalah, bintang-bintang di angkasa mengarahkanmu
Bahkan mungkin tak perlu bintang-bintang itu
Seharusnya kamu tahu, akulah tempatmu

Kemarilah
Cium aku maka tak akan pergi
Kasihmu akan selalu aku simpan
Hatiku ini siap menerimamu
Bersama segala rintik kesedihanmu bila masih tersisa

Akan ada waktunya kesedihanmu menguap
Membentuk partikel-partikel baru
Warna spektrum yang indah
Aku harap aku yang mengubah sedihmu
Menjadi saksi akan keindahanmu

Hujan ini saksinya
Awal akan spektrum
Bersama

Friday, August 21, 2015

Tanpa Judul

Aku akan menghilang sejenak
Dan ketika aku siap, aku akan bersembunyi
Di balik layar memantau 
Dan ketika aku siap lagi, aku akan muncul
Bersama dengan kode-kode yang telah kukasih
Pecahkanlah dan aku akan senantiasa menjelaskan semuanya
Walau semuanya sudah tertulis di kode-kode tersebut


Friday, July 31, 2015

Aktor Pemula

Aku seorang aktor pemula, berakting dalam hidup ini.
Karena hidup adalah tempat para orang ingin mendapatkan perhatian.
Untuk itu aku berakting, walau aku yakin aku tak bisa.

Lihat mata-mata itu, aku sudah biasa merasakannya.
Mata-mata merendahkan seakan memang aku tak bisa mendapatkan perhatian mereka.
Akulah aktor pemula yang tak mengerti hidup.
Dengan begitu aku tak dapat masuk dalam lingkaran itu.
Lingkaran para aktor berbakat.
Aktor-aktor yang mementingkan khalayak banyak dibanding keinginannya sendiri.
Dengan begitu aku termasuk aktor yang egois.
Walau aku benar-benar ingin berakting layaknya mereka.
Mendapat perhatian dengan aku yang apa adanya.
Seorang aktor pemula yang tak memiliki status layaknya mereka.

Biarlah aku berkarya dengan kemampuanku yang masih minim ini.
Dan suatu saat aku tunjukkan pada mereka.
Inilah aku, seorang aktor yang tetap tak mengerti hidup ini.

Friday, June 12, 2015

Tunggu Aku

Rindu menang
Ingin selalu dengan cinta
Ya entah apa itu cinta
Awalnya aku tak peduli
Namun kini rindu itu menyerang

Rasanya seperti badan berputar
Angin porak poranda
Denting piano terdengar fals
Ingin aku berlari kabur
Tak peduli banyaknya rintangan
Yakin siapa yang aku capai
Aku sedang mencarimu, cinta

Wednesday, June 3, 2015

[NulisRandom2015] Gak Ada Internet

Di hari ketiga nulis random ini gue mencoba menulis lewat smartphone. Well, lewat aplikasi blogger mobile.  Menarik karena ini pertama kalinya dan mungkin seminggu ke depan gue menulis lewat aplikasi tersebut. Kenapa? 

Musibah. Internet rumah gak bisa. Jadi gue gak bisa nulis di laptop. Gak ngerti rusak apanya, provider Internet nya sih gak ada masalah. Ini mungkin karena modemnya atau router nya yang bermasalah. Sudah hampir dari seminggu yang lain mungkin, kalau lihat di twitter gue kelihatan tuh ngedumel gak jelas karena Internet. 

So sejak kemarin sore Internet mati. Gue mulai mencoba untuk gak internet-an. Mungkin dari sana gue punya waktu untuk mulai menulis. Haha, pada akhirnya gue terlihat menyalahkan Internet atas kemalasan gue.  Perlahan, begitu juga dengan NulisRandom2015 ini gue berharap bisa rutin nulis dan menghilangkan kemalasan menulis.

Lumayan tiga paragraf~

Tuesday, June 2, 2015

[NulisRandom2015] Rindu Juni

Kisah kita di sini
Bersama agungnya sebuah cinta
Selama hati ini terpaut
Kamu akan bersama rinduku

Enam
Aku menghitungnya
Selama hati ini membara
Kamu tetap bersama rinduku

Enam
Aku melupakannya
Selama hati ini gentar
Kamu hilang bersama rinduku

Enam
Aku menunggunya
Hingga hati ini berkobar
Aku akan mencari rinduku kembali

Monday, June 1, 2015

[NulisRandom2015] - Hari Pertama

Mumpung lagi ada tantangan #NulisRandom2015, akhirnya saya kembali mengisi blog ini. Saat lagi bingung-bingungnya mau isi blog ini, membaca tantang nulis random akhirnya ada secercah cahaya untuk blog ini. Sempat kasihan gak diisi apa-apa. 

Dalam menulis random ini saya menemukan sebuah syarat yang paling keren mungkin. Syarat untuk mengikuti tantangan ini, TIDAK ADA. Bagaimana mungkin bukan? Haha, pada akhirnya memang tak ada syarat apapun untuk menulis. Bahkan tak ada tema apapun, bebas, sesuka hati kita untuk menulis apa. Luar biasa bukan event Nulis Random ini. Bagaimana tidak untuk tidak ikutan? 

Di hari pertama ini, gue ingin menulis tentang hari pertama. Maksud gue tentang apa  saja sih yang terjadi di hari pertama kita melakukan sesuatu yang rutin. Misal sekolah, kerja, bahkan nanti yang mau puasa, kegiatan organisasi dan macam-macamnya. Bahkan di hari pertama kita menjalankan minggu pertama di setiap bulan. 

Apa sih yang kalian rasakan di hari pertama? Excited, cemas, senang? Atau malah sedih dan malas? Mungkin hal-hal itu yang kita rasakan di hari pertama. Tergantung pribadi masing-masing sepertinya ya? Mungkin sebagian pelajar atau pekerja kantoran ada tuh rasa-rasa malasnya. Buat anak-anak baru juga entah di kantor maupun di sekolah ada rasa excited plus cemasnya. 

Buat gue pribadi, pas di SMA itu setiap hari pertama sekolah gue selalu malas. Malas untuk bangun pagi. Karena aneh aja pas hari sabtu sama minggu gue bangun tidur siang terus, tiba-tiba senin tuh harus bangun pagi itu benar-benar memalaskan. Haha, ada yang setuju gak? Mungkin beda ceritanya lagi kalau sudah punya pasangan kali ya? Setiap senin excited bisa ketemu pacarnya, atau bahkan malas mau ganti pacar yang baru mungkin? Hahaha. 

Nah untuk yang beragama Islam nih, sebentar lagi puasa, pasti sangat menunggu-nunggu hari pertama puasanya nih. Begitu juga dalam kegiatan nulis random ini, di hari pertama ini gue sudah serandom apa ini tulisannya? Hahaha

Oh iya, kalau mau lihat cara ikutannya cek ya di sini. Ikutan gih, sekalian isi blog kalian yang mungkin sudah bersarang laba-laba. Sekalian latihan menulis juga. Selamat random-ria~ 

Friday, May 8, 2015

It's Difficult

Wah ternyata menjadi seorang blogger itu tidak gampang. Maksud gue menjadi blogger yang mempunyai konten berkualitas. Apalagi kalau blog-nya ini bertema, gue saja yang belum bisa seperti blogger terkenal saja susah mau menulis apa. Rasanya konten itu lebih penting dibanding apapun deh kalau jadi seorang blogger. Buat gue yang kontennya rata-rata review dan sebagian fiksi (walau baru 15 posting) rasanya belum bisa untuk menandingi blogger-blogger terkenal. 

Mungkin ada benarnya konten yang unik dan berkualitas akan dapat respon yang luar biasa. Tapi sampai sekarang gue masih bingung seperti apa sih konten yang unik dan berkualitas itu. Sepertinya memang gue masih perlu belajar banyak, melatih, dan terus menulis. Awalnya gue buat blog ini bertujuan untuk melatih menulis gue, tetapi gue pengen lebih dari itu. Gue pengen bisa menulis konten yang bagus dan berkualitas. Bingung bukan? Iya gue gak ngerti kenapa gue bisa nulis seperti ini. 

Terlebih lagi sebagai blogger kita harus konsisten. Mungkin musuh dari sebagian atau hampir semua blogger dan penulis adalah malas. Ya, gue termasuk orang yang cukup bisa dibilang malas. Gue mengakuinya dan gue ingin berubah. Seperti yang gue bilang, gue membuat blog ini untuk melatih menulis, itu termasuk juga melatih gue supaya rajin. Tapi apa daya, gue masih belum bisa mengalahkan monster tersebut, monster yang bernama malas. 

Gue sampai sekarang masih bertekad untuk bisa menjadi penulis yang dapat sering berkarya. Gue ingin bisa menjadi seseorang yang mendapatkan manfaat dari menulis. Gue ingin bisa menjadi orang-orang terkenal di luar sana, setidaknya seperti mereka yang sering berkarya. Huh, jadi aneh, gue ini lagi nulis apa sih? Ke sana ke mari. 

Pada akhirnya gue sadar menjadi seorang penulis (mau itu penulis novel atau blogger) itu gak mudah. Mungkin dulu gue berpikiran jadi penulis itu gampang asal kita bisa menulis cerita, ternyata gak semudah itu. Kita harus mulai dari niat dulu dan yang pasti konsisten. Itu gak gampang, bro. Begitu pula saat gue membuat blog ini, ternyata jalannya gak selalu lurus. Berkelok-kelok bahkan harus memutar balik karena buntu. 

Entahlah ini gue lagi mencurahkan isi hati atau bagaimana. Gue pengen sharing saja kalau menjadi seorang blogger atau penulis itu gak gampang, menurut gue dan gue bersemangat karena itu. Gue pengen ngalahin segala rintangan dan menjadi orang yang sukses pastinya. Gue pun bersyukur karena gue sudah berniat berada di jalan ini, jalan menjadi seorang penulis. Gue hanya perlu lebih konsisten dan mengalahkan segala kemalasan gue. 

Semoga kalian juga bisa mengalahkan rintangan kalian semua. Kita sama-sama berjuang, untuk Indonesia yang kreatif. 

FIGHTING~

Wednesday, April 29, 2015

#FFRabu - Invitation

Hari ini pulang tengah malam lagi. Ternyata memang melelahkan jadi public figure itu. Dalam perjalanan pulang, aku mengenang bagaimana perjuangan menjadi seorang penyanyi muda berbakat. Masyarakat menyebutnya begitu, walau begitu rasanya setelah sampai di posisi ini aku merasa tak nyaman.

“Oh iya, itu di jok belakang ada undangan,” kata manajer sekaligus supir.

Aku mencari yang dimaksud, ternyata sebuah surat hitam. Tak ada nama pengirim, aku mulai penasaran dan membukanya. Kertasnya hitam dan tulisannya berwarna keemasan, tertulis namaku, Denia Pramuldi. Aku membaca isinya dengan pelan dan aku menemukan sebuah foto bukti yang tertulis di isi surat, di bawahnya tertulis Deathmatch Game.

Monday, April 20, 2015

Rayuan Janjimu

Katamu kamu bisa memberiku bulan dan memberiku sinarnya bintang malam. Terkadang aku selalu menertawakanmu bila kamu sudah menjanjikan hal-hal tersebut. Bukan karena menjanjikan hal konyol itu, tetapi karena aku tahu bahwa kamu bisa melakukan apapun untukku. Seperti seseorang dalam masa laluku dulu.

“Aku bisa membawamu ke bulan itu,” serunya waktu itu.

“Haha, tak masuk akal.”

Begitu juga kau yang menjanjikan sinarnya bintang malam. Konyol, tetapi aku mempercayainya begitu saja dan memelukmu erat di hamparan pasir pantai. Waktu itu aku mulai takut, ketakutan yang sama saat aku mengetahui sebuah rahasia dirinya, masa lalu.

Kali ini berbeda, kau tidak mengikuti jejaknya. Hanya saja takdirmu yang sama dengannya. Pusaramu ini buktinya, pada akhirnya kau tidak bisa menepati janjimu itu. Janji saat aku mulai merasakan ketakutan itu.

Jangan pergi!

Lie to me
I promise I'll believe you
Lie to me
But please don't leave, don't leave
(Strong Enough - Sheryl Crow)

*Flash Fiction ini diikutkan dalam Prompt 75 Monday Flash Fiction dengan tema Are Strong Enough?
** 125 Kata (142 kata include lirik)

Friday, April 17, 2015

Kind a Game

Aku takut berada di sini. Undangan itu membawaku ke ruangan ini dengan orang-orang yang tak begitu aku kenal. Tidak semuanya, ada satu perempuan yang dulu pernah aku kenal baik. Jelas aku terkejut melihatnya di tempat yang entahlah sampai beberapa jam ini menjadi tempat yang menakutkan. Bagaimana tidak, ada sebelas orang-orang yang tak begitu ku kenal memiliki otak-otak cerdas, sama sepertiku. Bukan maksud menyombongkan diri, hanya saja mungkin karena itu jugalah aku diundang ke tempat ini. 

Sejak beberapa jam yang lalu banyak wajah-wajah cemas yang muncul dari orang-orang di sini. Termasuk aku dan perempuan tersebut, aku juga sudah berbicara dengannya beberapa menit yang lalu. Mencari solusi yang pas dan juga membicara masa lalu yang pahit, tentu saja aku tak mengatakan hal tersebut lagi setelah beberapa tahun sejak terakhir aku melihatnya. Belum begitu lama tetapi rasanya buatku lebih dari faktanya. 

Situasi makin sulit di sini, hingga kini aku berhadapan dengannya. Aku menahan napasku saat berhadapan dan menatapnya dengan lekat. Sudah lama aku tak merasakan hal ini dan dia masih begitu sama sejak terakhir aku lihat. Aku mulai cemas, dirinya juga. Tempat ini benar-benar menyeramkan. 

"Aku tak begitu yakin kita bisa di sini dalam situasi seperti ini. Bagaikan mimpi," katanya mengisi kesenyapan dan ketegangan di tempat ini. 

"Aku juga, tapi aku bersyukur bisa bertemu denganmu lagi. Bagaikan mimpi." Begitu saja terucap dengan dia tersenyum tipis dan tetap kami merasa cemas. 

"Game must be go on." 

"Yeah!" 

Setelah beberapa menit dimulai, aku terpojokkan. Semua berada di tangannya dan aku tahu akan kalah. 

"Don't cry!" ucapku dengan hati-hati dan juga tertuju juga padaku. Ya, tak terasa air mataku mengalir begitu saja seperti dirinya. 

"Pastikan kamu keluar dari sini, laporkan di balik semua ini. I know you can." 

Air matanya tambah deras, dia bersiap-siap dengan tangannya yang bergetar hebat. Pada akhirnya aku tidak bisa menolongnya dan harus melakukannya lagi padanya. Aku hanya bisa pasrah, mungkin ini takdir untuk kita yang tidak bisa bersatu dan aku merasa lemah. Ya, setelah sekian lama bertemu dengannya dan takdirku seperti ini. 

"Maaf," katanya di sela air-air matanya itu. 

Bunyi pelatuk pistol berbunyi dan ya sampai di sini sudah. Aku menutup mataku dengan pasrah dan bersiap diri. Sekian lama dan aku tetap tidak bisa mengatakan hal tersebut padanya. Mengatakan sejak saat terakhir melihatnya aku... masih mencintainya.

Tuesday, April 14, 2015

[Review] In a Blue Moon


Judul: In a Blue Moon
Penulis: Ilana Tan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 320 hlm
Genre: Metropop
Tahun Terbit: Jakarta, 2015
ISBN: 978-602-03-1462-4
Rate: 5/5 bintang

*** 

In a Blue Moon bercerita tentang Lucas Ford yang dijodohkan oleh kakeknya pada Sophie Wilson. Pertemuan mereka pertama kali saat mereka masih berada di SMA, Sophie Wilson mempunyai kenangan buruk pada masa itu. Akibat jelas karena seorang Lucas Ford, sepuluh tahun kemudian mereka bertemu karena perjodohan oleh Kakeknya Lucas. Perasaan benci itu masih ada dan Lucas ingin membuktikan pada Sophie bahwa sekarang ia sudah berubah. Selain itu Lucas ingin Sophie menyukainya sebesar ia menyukai gadis tersebut. 

Membaca ringkasan di atas ini, apa sih yang kalian lakukan untuk bisa menyakinkan seseorang seperti yang ingin Lucas lakukan? Kalian juga pasti dapat gambarannya sedikit kalau kalian berada di posisi Lucas. Sama, saat gue membaca blurb novel salah satu penulis Mega Bestseller, Ilana Tan ini gue mencoba memposisikan diri sebagai Lucas. Tentu dengan khayalan-khayalan tingkat tinggi dan berusaha seromantis mungkin untuk bisa menyakinkan seseorang terlebih lagi ini seorang wanita bernama Sophie. Seorang pemilik toko kue yang mempunyai Tartlet yang paling enak di New York. 

Friday, April 10, 2015

[Review] The Last: Naruto The Movie

Source: defectivegeeks.com
Film anime yang bercerita tentang seorang ninja dari Konohagakure yang mendapatkan misi menyelamatkan dunia ninja dan dalam perjalanan misinya menemukan fragment-fragment tentang dirinya dan menyadari bahwa seseorang di dekatnya benar-benar menyukainya. Ya, kali ini film Naruto menunjukkan cerita yang sangat romantis. 

Setelah dua tahun perang shinobi terbesar dalam sejarahnya Naruto dan kawan-kawannya mendapat misi untuk menyelamatkan adik dari Hinata yang juga bersangkutan dengan ancaman dari bulan ke bumi. Seperti yang sudah gue katakan, dalam perjalanan misinya Naruto mengetahui semuanya tentang pandangan Hinata pada dirinya. Dalam misinya Naruto dan Hinata bertemu dengan Toneri Otsutsuki keturunan terakhir dari saudara kembar Rikudou Sennin, Hamuro Otsutsuki. Toneri berniat untuk menikahi Hinata dan mengancurkan dunia ninja yang dibentuk oleh Rikudo Sennin. 

Dari penjelasan tadi terlihat akan adanya cerita yang romantis dari serial Naruto ini. Film pertama yang menjadi bagian resmi dari tulisan manga Naruto setelah timeskip perang shinobi yang ditangani dan diawasi langsung oleh pembuatnya Masashi Kishimoto. 

Film Naruto kali ini berbeda dari film-film sebelumnya. Sudah jelas perbedaannya ada di sebuah cerita cintanya dan juga berhubungan langsung dengan alur asli dari manga Naruto. Bahkan di Jepang sana film ini juga dijadikan julukan bab 699,5. Menjadi chapter pembatas sebelum bab 700 di mana Naruto sudah menjadi seorang Hokage dan mempunyai dua anak bernama Boruto Uzumaki dan Himawari Uzumaki. 

Kesan dari menonton film ini sangat berdebar-debar, bagaimana tidak? Dalam film ini terdapat perubahan-perubahan yang terjadi di manga, dari desain outfit, desa konohagakure yang terlihat menjadi sangat ramai, perubahan fisik, bahkan kita bisa melihat Kakashi menjadi seorang Hokage, dan juga jurus-jurus ninjutsu Naruto yang mulai berkembang. Di samping itu saya suka dengan bagaimana alur di awal film yang menunjukan Naruto kecil dan juga Hinata kecil. Oh iya saya juga menyukai bagian opening atau introduction dari film ini. Rasanya dari sekian film Naruto, yang ini baru ada opening semacam itu. 

Untuk ceritanya sendiri gak usah ditanya, pattern masih tetap sama seperti film-film pendahulunya, gue menyebutnya sebagai "to defeat an enemy". Akan tetapi karena diselipkan cerita romantisnya film ini benar-benar menjadi film yang istimewa, terlebih lagi untuk kalian yang benar-benar menyukai serial Naruto ini. Gue sebagai fans Sasuke dan mungkin juga kalian akan sedikit kecewa karena Sasuke cuma muncul seperti cameo saja, walau rasanya kemunculannya menjadi impact yang tak terduga. Oh iya, kemunculan Kurama juga bisa dikatakan hanya sekali dan itupun gak banyak omongnya seperti di manga. Padahal menarik melihat perbincangan Naruto dan Kurama setelah dua tahun perang shinobi tersebut. 

Overall film ini memang sangat terlihat istimewa, ditangani dan diawasi langsung oleh Masashi Kishimoto, se-alur dengan serial asli Naruto, dan juga menjadi pembatas dari bab 699 ke 700. Walau begitu rasanya berat untuk menggantikan Road to Ninja sebagai film Naruto favorit gue. Bagi yang sudah mengikuti Naruto sejak awal harus dan wajib banget untuk menonton film ini. Kalian juga dapat melihat Boruto dan Himawari setelah credit scene Walau cuma sebentar tapi rasanya worth it untuk menunggu credit scene dan melihat Boruto dan Himawari dalam dimensi gerak animasi dan suara. 

Ayo apalagi yang harus ditunggu, cepat ditonton ya. Film ini sudah diputar di Blitzmegaplex sejak Rabu kemarin. Buruan nonton sebelum gak ditayangkan lagi di Blitzmegaplex. Bagi yang sudah menonton bisa share kesan kalian di comment bawah. Bagi kalian yang mau mendengarkan soundtrack ini klik video di bawah ini. Judulnya Hoshi no Utsuwa oleh Sukima Switch. 


Monday, April 6, 2015

Semua Karena Zipper


Halo Kawan Kata~

Balik lagi dengan gue dan juga animated short film di atas tentunya. Entah kenapa gue ingin sharing short film ini karena menurut gue yang menarik dan unik. Pertama kali gue lihat ini saat gue lagi browsing lagu-lagu soundtrack film di youtube, di salah satunya menampilkan advertise dengan short film ini. 

Omong-omong tentang iklan di youtube, gue rada sebal kalau iklannya gak menarik dan gak bisa di-skip. Gue gak mempersalahkan kenapa youtube sekarang ada iklannya karena gue tahu iklan itu ladang uang bagi channel-channel youtube. Tetapi, gue rada gak suka kalau iklannya benaran gak menarik dan gak bisa di-skip. Walau cuma beberapa detik tetap saja bikin nunggu, ada di antara kalian yang begitu juga? 

Nah yang ini gue gak tahu kenapa tiba-tiba iklannya adalah sebuah animated short film. Gue tertarik dong, gue tonton dan ternyata memang menarik dan unik. Bagaimana tidak, ceritanya mengenai dua anak yang bisa gue katakan jenius dan menciptakan alat seperti zipper-gun untuk membantu banyak orang. Judul filmnya Fastening Days, kalian bisa search atau tinggal klik video youtube di atas itu. 

Sudah ditonton? Bagaimana? Bagus bukan? 

Menurut gue short film ini terbilang menarik dan unik, berkali-kali akan gue katakan itu untuk film ini. Ceritanya gak rumit, ada rasa humornya sedikit, dan juga rapi, bersih, simpel. Gak ada efek-efek yang membuat film ini aneh, semua terlihat enak dipandang. Sampai saat gue menulis ini, entah sudah berapa kali gue tonton, bahkan sebelum menulis ini gue tonton ulang. 

Buat kalian yang belum tonton, coba klik video di atas deh. Rugi deh kalau gak nonton. Mungkin kalian yang sudah tonton saat lagi browsing di youtube dan iklannya short film ini, bagaimana menurut kalian? Yuk sharing di comment ya~ 

Thursday, April 2, 2015

[Puisi] Hujan yang Lain di Awal April

Dirinya datang lagi
Bersama dengan senyum hitam
Kelam juga bersamanya
Kesendirian

Seperti dirimu
Datang membawa harapan
Bersamanya dengan senyum itu
Hitam 

Daun-daun berguguran
Saling mendahului
Meninggalkan sepucuk
Kenangan

Lagi, rintik hujan menerpa
Menghapus senyumnya
Senyummu 
Bersama dirimu

Dirinya tinggal
Menanti warna baru
Seiring menerjang sisa pucuk
Bersamanya dengan kesepian

Sunday, March 22, 2015

[Review] Remedy


Judul: Remedy
Penulis: Biondy Alfian
Penerbit: Ice Cube Publisher
Tebal: vi +209 hlm
Genre: Young Adult
Cetakan: Pertama, Februari 2015
ISBN: 978-979-91-0818-0
Rate: 4/5 bintang

*** 

Remedy ini bercerita tentang Navin yang mempunyai dua identitas dan  juga Tania yang menyakiti bagian tubuhnya sendiri. Navin yang cemas mengetahui Tania melihat kedua KTP-nya membuat dirinya mengawasi Tania supaya dia tak buka mulut kepada siapa pun. Tania yang penasaran akan rahasia di balik identitas lamanya Navin ingin sekali mengetahui, sehingga keduanya jadi saling dekat. Keduanya mempunyai tujuannya masing-masing, saling mengawasi, saling penasaran, dan sama-sama mempunyai rahasia yang tak ingin orang lain ketahui. 

Itulah yang bisa gue ringkas dari novel Remedy karya dari Biondy Alfian. Bila tempo lalu saya me-review Haru no Sora yang menjadi juara kedua dalam kompetisi YARN. Kini saya me-review juara ketiganya. Yup, Remedy ini juara ketiga dalam kompetisi tersebut dan juga merupakan novel debutnya Biondy Alfian. Wow, keren bukan? Jelas dan itu dibuktikan di dalam novelnya tersebut, Remedy. 

Friday, March 20, 2015

Pojok Musik - Perkenalan

Welcome to My Music Section


Perkenalkan, sebuah sesi dalam GalleryWords yang akan membahas selera-selera musik sang penulisnya sendiri. Awalnya gak percaya akan membuat sesi untuk membahas selera musik gue tapi kenapa gak dicoba. Setidaknya bisa mengisi tulisan di blog ini, dan inilah Pojok Musik. Dalam perkenalan ini gue akan membahas apa saja sih yang ada dalam tulisan Pojok Musik ini. 

Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, tulisan-tulisan di Pojok Musik ini khusus untuk selera musik yang gue dengar. Mungkin lebih gampangnya, lagu-lagu apa sih yang gue dengar dan nikmati. Mungkin ada yang bingung juga dan berpikir, "kenapa gue harus tahu selera-selera musik lo?". Well, tulisan-tulisan di Pojok Musik ini akan jadi diari lagu atau musik buat gue sendiri. Gue ingin merekam lagu-lagu apa saja yang gue dengarkan dalam bentuk tulisan. Tentu saja gue akan berusaha menulisnya seinformatif mungkin.

Thursday, March 12, 2015

Welcome to Virtual Reality Development Era

Virtual Reality OculusRift
Source: forbes

Perkembangan teknologi kini semakin sangat pesat, terutama pada handphone yang kita gunakan sehari-hari. Dari yang dulu operasi sistemnya masih Symbian kini sudah ada Android dan juga iOS. Dari jaman Nokia hingga sekarang diambil alih Microsoft. Beberapa brand ternama bersaing satu sama lainnya, begitulah yang terlihat sekarang ini. Apalagi dalam dalam event MWC (Mobile World Congress) 2015 di Barcelona tempo hari tersebut. Banyak brand ternama menggeluarkan dan memperkenalkan produk-produk baru mereka. Tak cuma smartphone baru tentunya, tahun ini mungkin juga termasuk tahunnya smartwatch di pasaran. Perlu diperhatikan juga tuh, jadi jangan kaget juga nanti kalau di jalan kamu gak sengaja lihat orang yang lagi pencet-pencet jamnya. Dalam event tersebut gue melihat hal yang tak biasa dan gue mulai tertarik dengan product yang diperkenalkan oleh dua brand ternama. 

Kemungkinan sekitar April dan akhir tahun ini headset Virtual Reality dari dua brand ternama ini akan dipasarkan. Samsung dengan GearVR-nya inovasi terbaru dari Oculus Rift VR dan HTC yang berkerja sama dengan Valve, HTC Vive. Perkiraan release date masih simpang siur, gue tahu kabarnya juga sekitar April untuk GearVR berbarengan dengan Galaxy S6 & S6 Edge. Untuk HTC Vive akhir tahun ini, berbarengan dengan Steam Machine. Ya, sepertinya tahun ini akan menjadi ajangnya Virtual Reality untuk ikut unjuk gigi dalam perkembangan teknologi mobile.
Samsung GearVR and HTC Vive
Source: pcadvisor


Sebelum membahas lebih lanjut coba mari kita ketahui lebih dalam, apa sih Virtual Reality itu?

Saturday, March 7, 2015

[Review] Koala Kumal



Judul: Koala Kumal
Penulis: Raditya Dika
Penerbit: Gagasmedia
Tebal: x + 250 hlm
Genre: Humor, Personal Literature
Cetakan: Kedua, 2014
ISBN: 979-780-769-X
Rate: 4/5 Bintang

*** 

Koala Kumal, buku ketujuh Raditya Dika ini bercerita mengenai kisah-kisah pribadinya seperti biasanya dengan style humor beliau. Buku-buku beliau sebelumnya selalu laris di pasaran, begitu juga dengan Koala Kumal ini. Banyak pembaca dan penggemar Raditya Dika menyempatkan untuk menunggu hingga larut malam untuk Pre-Order buku tersebut. Antusias yang rasanya lebih besar dari buku sebelumnya Manusia Setengah Salmon. Ya, bagaimana tidak? Setelah tiga tahun lamanya setelah buku terakhirnya tersebut kini muncul dengan Koala Kumal. Penantian dari banyak pembaca terutama fans-fans-nya. 

Di buku terbarunya ini gue rasa Raditya Dika melakukan hal baru mengenai cerita-ceritanya tersebut. Dibanding dengan buku-buku sebelumnya, gue rasa bukunya kali ini tidak begitu banyak humor yang disajikan. Rasanya sangat jauh sekali dengan buku pertamanya yang membawa beliau ini bisa menjadi seorang comic, sutradara, penulis skenario, dan aktor seperti sekarang. Memang proses yang cukup panjang, kalau dulu orang menggambarkan Raditya Dika dengan Kambing Jantannya, kini gue mulai menggambarkan beliau dengan Koala Kumalnya.

Thursday, March 5, 2015

[Puisi] Rintik Hujan September Itu Palsu

Seperti biasa awan kali ini cerah
Sinar itu diam-diam menampakkan serunya
"Hai kamu lihat ini"
Butir-butir hujan menari
Menanti sang pujaan, awan-awan hitam

Lihatlah, mereka berkumpul ria
Sinar itu menanti bingung
Perlahan memudar, gelap
Sayang, sang mentari hilang

Tik... tik... tik...
Begitulah bunyinya
Perlahan mulai mengebu-gebu
Lihat, siapa yang berseru senang?
Si pencabut nyawa

Ah, sudah datang
Tak ada basa-basi
Hilang sudah! Hilang!

Siapa yang menantinya?
Pelangi

Tak mungkin!
Butir-butir air kembali mengguyur
Lihat, siapa yang berseru sedih?
Tak ada

Sayang, mentari mulai muncul
Pelangi sudah menjemput
Cobalah lihat langit September!
Mana hujan?

Selamat datang di neraka

Thursday, February 26, 2015

[Review] Haru No Sora


Judul: Haru No Sora
Penulis: Laili Muttamimah
Penerbit: Ice Cube Publisher
Tebal: vii + 298 hlm
Genre: Young Adult
Cetakan: Pertama, Februari 2015
ISBN: 978-979-91-0817-3
Rate: 4,75/5 Bintang

*** 

Haru No Sora bercerita mengenai tentang seorang siswi bernama Miyazaki Sora yang mempunyai lika-liku perjalanan yang menurutnya berat. Selama musim dinginnya, Sora selalu ingin kenangan selama tiga tahun yang sudah terlewati membeku supaya tak merasakan sakit, sedih, menderita lagi. Sora selalu menanti-nanti kehangatan yang sudah lama tak dirasakannya, seperti musim semi, musim favoritnya. Terakhir ia merasakan kehangatan itu tiga tahun yang lalu, sebelum ibunya meninggal, sebelum ayahnya yang menapaki dunia judi dan alkoholnya, sebelum Sora melakukan pekerjaan tercela. 

Membaca sedikit ringkasan novel ini, kalian mungkin bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Sora. Gue pribadi setelah membaca blurb novel ini langsung memutuskan untuk memprioritaskan beli novel ini dibanding novel pemenang YARN lainnya. Yup, novel ini salah satu pemenang lomba menulis YARN yang diadakan oleh Ice Cube Publisher. Laili Muttamimah, penulis novel ini juga sebelumnya memenangkan kompetisi menulis Seri Bluestroberi yang diadakan oleh penerbit yang sama. 

Friday, February 20, 2015

Nama Yang Terlupakan

Hai-Hai, Kawan Kata~

Kali ini gua ingin menulis sesuatu yang mungkin terinspirasi dari salah satu bab buku terbarunya Raditya Dika, Koala Kumal. Sudah ada yang baca belum? Mungkin lain kali akan gua review keseluruhan bukunya. Seperti yang sudah dikatakan tadi, ada satu bab yang menurut gua memang menarik dari buku tersebut. 

Perempuan Tanpa Nama. 

Di sana Radit menceritakan tentang perempuan-perempuan yang menarik baginya tanpa pernah mengetahui namanya. Gua mungkin pernah mengalami hal yang sama seperti itu mungkin juga kalian, tapi kali ini gua tak akan membicarakannya. Tulisan ini tak pernah terpikirkan sebelumnya, anehnya gua menuliskannya sekarang, semacam tak sadar tak direncanakan. Inilah "Nama Yang Terlupakan."

Cerita ini berasal saat gua berada di sekolah dasar. Entah katanya masih jamannya gua imut-imut, well kalau dilihat-lihat fotonya jaman dulu ada benarnya. Gua bahkan heran tumbuhnya sekarang seperti terlihat lebih tua dari pada umur sebenarnya, sering dipanggil Bapak di departement store. Kembali ke cerita, jadi kalau gak salah masih di kelas 3 atau 4 SD gitu. 

Ini di mana gua sedang ujian tengah semester, saat itu yang namanya ujian tempat duduk diatur bahkan kita sekelas sama kakak kelas. Jadi di situlah gua menggenal satu kakak kelas yang kalau bisa dibilang memang cantik, saat itu. Sekarang gua bahkan samar-samar mengingat wajah dan tampilannya. Si kakak kelas ini satu meja ujian sama gua dan waktu itu dia juga terbuka sama adik-adik kelas lainnya. Dia juga sering kasih tahu jawaban sama gua kalau ada soal yang susah. Seingat gua waktu itu bahasa inggris, dulu memang gua gak ngerti bahasa inggris sama sekali sampai kelas 5 atau 6 SD. 

Saat itu entah mengapa kalau diingat-ingat gua ini terlihat sangat jail sekali. Kadang bingung kok bisa jail dengan kakak kelas yang kalau ingat-ingat jutek juga. Mungkin cuma dia juga yang meladeni jailan gua waktu itu. Mengingat-ingat kembali ke jaman itu rasanya rindu juga, setidaknya waktu itu gua gak peduli dengan pikiran-pikiran yang musti dipikirkan saat ini. Masih polos, gak begitu tahu kerasnya hidup, gak perlu pikirin persoalan yang ada. Bahkan gua bisa jailin kakak kelas sendiri tanpa tahu resikonya lebih buruk kalau gua lakukan saat umur gua masuk kepala dua.

Seiring waktu, gua sering bertemu dengannya. Sepulang sekolah, nunggu jemputan, saat istirahat, samar-samar tapi gua tahu pernah dan sering jailin dia. Hingga sampai waktu dia sudah lulus dan gak pernah ketemu lagi. Hingga detik ini dan nama itu terlupakan begitu saja. Saat itu rasanya ada yang hilang begitu saja, gak ngerti bagaimana jelasinnya tapi rasanya memang dulu gua suka dengan kakak kelas ini. Walaupun dan pastinya saat itu saya masih sangat polos dan gak mengerti apa-apa tentang teori suka ataupun cinta. 

Setelah itu mungkin gua masih sering mengingat namanya, tapi sekarang gak ingat sama sekali. Entahlah sejak kapan gua gak ingat namanya dan sejak baca bab Perempuan Tanpa Nama itu gua terpikirkan oleh cerita ini. Nama, salah satu identitas diri yang memang ada yang terlupakan, ada yang selalu diingat, dan ada juga yang gak tahu nama seseorang seperti di bab "Perempuan Tanpa Nama" tersebut. Gua sadar nama itu bukan hanya sebatas identitas saja, nama juga merupakan sebuah kenangan, memori, cerita, teka-teki, bahkan ada juga nama yang bermakna. Nama itu lebih dari penting. 

Mungkin ada dari kalian yang punya cerita mengenai sebuah nama? Silakan share di blog kalian masing-masing atau comment di bawah. Yang menulis di blog juga kasih saja link di comment dengan senang hati gua akan membacanya. Menarik memang membaca cerita-cerita semacam ini sejak gua membaca bab Perempuan Tanpa Nama dan sebenarnya gua punya satu cerita lagi mengenai nama. Gua gak yakin akan menuliskannya di sini dan mungkin tak akan pernah menuliskannya. 

Ceritanya mengenai ...

Nama Yang Tak Akan Hilang~ 

Monday, February 16, 2015

GalleryWords on Blogspot

Hello, kawan kata. 

Wow, akhirnya terwujud sudah setelah sekian lama tak aktif blogging. Sudah sejak beberapa tahun lalu setelah mengeluar novel untuk berkeinginan pindah template dari Wordpress ke Blogspot. Terlebih lagi untuk lebih aktif blogging, kini saya ingin memulai dengan semangat baru. 

Jadi di sini saya akan lebih aktif blogging. 

Mengapa pindah ke blogspot? 
Begini, setelah beberapa tahun berada di Wordpress saya sedikit paham mengapa banyak blogger/penulis memulai situsnya menggunakan template Blogspot ini. Saya sadar ini setelah mengetahui betapa terkoordinasinya Google. Segalanya, dari mulai e-mail, layanan storage (Drive), Youtube, App Store ke smartphone, kalender, G+, hingga ke blog. Rasanya semua jadi satu dan itu Google. 

Melihat ini akhirnya saya memutuskan membuat blog dari awal menggunakan blogspot ini. Kemungkinan juga beberapa bulan lagi kalian juga tak akan melihat blogspot di url GalleryWords ini. Saya berencana memakai custom domain, bentuk komitmen saya akan serius aktif blogging. Saat ini saya mulai belajar dari awal lagi untuk segala sesuatunya dengan Blogspot. Harus membiasakan kembali setelah beberapa tahun bermain-main dengan Wordpress. 

Oh iya, saya bukan menjelekkan Wordpress ya di sini. Hanya saja saya menemukan hal yang dapat mudah mengatur segalanya dalam satu akun google. 

Nah, mungkin ada yang penasaran, apa sih yang nanti dapat dibaca di GalleryWords ini? 

Sepertinya akan sama dengan GalleryWords sebelumnya. Saya akan mengisinya dengan review novel-novel yang saya baca. Ada juga nanti puisi dan cerita-cerita mini atau pendek. Review film dan mungkin drama Korea juga. Ke depannya nanti saya juga memberi tahu info novel-novel saya yang akan terbit, artikel, review music video atau lagu, dan mungkin juga (berkeinginan) membuat photo essay dan juga video. Melihat banyak blogger yang mulai merambah media video seperti Youtube rasanya saya juga mulai tertarik membuat video. Semuanya, semua akan saya coba demi mulai aktif blogging. 

Rasanya saya mulai tak sabaran mengisi blog ini dengan berbagai macam yang disebut barusan. Walau kelihatannya random sekali dan tak terpaku dengan satu genre/tipe blogger tetapi saya sebisa mungkin membawa semangat GalleryWords sebelumnya, "ketika kata mulai terangkai menjadi cerita". Kali ini di Blogspot saya mengangkat tema "setiap kata bercerita", sekilas memang intinya sama bukan? Setidaknya saya bisa fokus ke arah sana walau dengan berbagai jenis tulisan nantinya.

Jadi, nantikan saja tulisan-tulisan yang lainnya di GalleryWords! 




NB: Kalau ada desainer blog bisa tolong hubungi saya di e-mail atau sosial media lainnya. Saya lagi cari-cari desainer yang bersedia membuat custom template blog saya.