Sunday, January 15, 2017

(Review) Happiness is You - Novel Bertema Baseball yang Ideal.


Judul: Happiness is You
Penulis: Clara Canceriana
Penerbit: Bentang Belia
Tebal: 288 hlm
Genre: Fiksi Remaja
Cetakan: Pertama
ISBN: 978-602-1383-62-9
Rate: 5/5 Bintang


Blurb:
Aloy dan Keira kelihatan sudah saling suka sejak lama, tapi mereka sama-sama nggak mengunggapkannya, demi status sakral bernama persahabatan. Lalu, Arsen, anggota baru klub baseball Aloy, masuk ke dalam lingkaran hubungan mereka. Lebih jauh lagi, Arsen mencoba mengetuk pintu hati Keira. 
Melihat Arsen dan Keira semakin dekat, Aloy menyadari sesuatu mulai bergejolak di dalam hatinya. Sejak itu, Aloy, bersikap aneh. Hidupnya jadi berantakan. Hubungannya dengan Keira memburuk. Interaksinya dengan Arsen di lapangan juga kacau. Ini membawanya pada konflik besar di klub baseball. Masalah yang mengancam masa depan Aloy sebagai atlet muda bersinar.
Jika orang sering bilang, yang berharga itu baru terasa setelah kehilangan, mungkin itu berlaku bagi Aloy. Belum terlambatkah jika seorang Aloy ingin merebut kembali yang berharga itu untuknya? 

Novel bertema baseball yang ideal.

Halo semuanya, sudah lama gak nulis blog ini. Kali ini gak tanggung-tanggung baliknya, di sini kita akan menyelenggarakan blog tour Happiness is You yang pertama. Ada apa saja sih di blog tour Happiness is You yang pertama ini? Yang pasti di sini saya yang sudah membaca Happiness is You akan membagikan beberapa hal mengenai novel baru karangan Clara Canceriana ini dan kesannya setelah membaca. Eits, jangan lupa menjelang akhir ada giveaway yang akan dibagikan, yaitu, satu buah novel Happiness is You, hand bag, dan juga merch key holder Rilakkuma. Kabarnya langsung dari kak Clara nya loh~

Jadi apa sih novel Happiness is You ini?

Novel ini berceritakan tentang sepasang battery, sebutan untuk pitcher (Aloy) dan catcher (Arsen) yang diselimuti oleh berbagai macam masalah. Dari yang bernama persahabatan, kepercayaan, hingga cinta. Singkatnya gitu, bila disingkat beberapa kata, lebihnya sangat lebih menarik dan seru. Jadi takut-takut mengandung spoiler bila dituliskan, kalian bisa menyimpulkan dari blurb di atas kok.

Ini kali kedua saya membaca novel ini dan terus terang ini adalah novel yang selalu saya tunggu di pasar industri buku kita. Lebih tepatnya ini novel yang selalu saya idamkan untuk ditulis dan dibaca dan akhirnya Clara Canceriana lah yang menulisnya. Bagi saya yang menggemari cerita olahraga baseball dan pernah menuliskannya ini sebuah hadiah yang luar biasa. Tidak mudah untuk menuliskan sebuah olahraga yang kurang populer di masyarakat kita. Berharap dari novel ini pula akan banyak yang mulai paham dan mengerti tentang olahraga Baseball ini. Hidup Baseball dan Softball Indonesia!!

Seperti yang disebutkan ini adalah novel yang bertemakan baseball. Tidak banyak orang yang mengerti dan paham akan olahraga ini. Tetapi lewat novel ini saya yakin banyak yang akan mengerti saat membacanya karena penulisnya menjabarkan hal-hal dasar pada olahraga ini dengan detail dan mudah dipahami. Bahkan ada beberapa terms yang dijelaskan lewat footnotes walau sebenarnya sudah dideskripsikan di narasi. Tidak sampai disitu, merasa kurang penulis menambahkan glosarium dan how to play di akhir-akhir halaman. Dengan beberapa ilustrasi yang memudahkan pembaca.

Keseriusan penulis akan olahraga baseball perlu diacungi jempol. Bila dilihat di balik naskah, Clara Canceriana tidak begitu tahu awalnya seperti apa itu baseball. Dengan berbagai riset yang dilakukan penulis bisa menghasilkan novel yang ideal ini cukup luar biasa. Inilah mengapa saya menanti novel-novel seperti Happiness is You ke depannya nanti. Tidak hanya dari Clara Canceriana tetapi dari penulis lainnya. Semoga makin banyak yang menuliskan novel bertemakan olahraga khususnya Baseball.

Dari segi ceritanya, jangan ditanyakan lagi. Bila dari kalian sudah ada yang baca beberapa karya Clara Canceriana, feel-nya akan sama saat membacanya. Narasinya yang begitu lugas dan sangat disukai oleh pembaca khususnya remaja. Tidak hanya itu, penulis terlihat berusaha untuk memudahkan pembaca mengerti terms baseball seperti yang sudah dijelaskan. Tidak menghilangkan ciri khasnya dan tetap membuat cerita lebih hidup. Berharap bisa ada yang mengilustrasikannya menjadi komik, penasaran akan seperti apa jadinya. Komikus Indonesia lagi banyak naik daun ini, siapa tahu ada yang tertarik.

Kesimpulannya, jadi untuk siapa sih novel ini ditujukan?

Buat saya pribadi novel ini buat kalian yang menyukai tema olahraga khususnya baseball dan untuk kalian yang ingin tahu lebih tentang baseball tanpa bertele-tele akan terminologi yang membingungkan. Selebihnya untuk pembaca karya-karya Clara Canceriana dan tentu pembaca barunya.

Sudahkan?

Eits belum deh. Ini nih yang paling penting. Harus di-giveaway-kan satu buah novel Happiness is You ini. Nah gimana sih cara dapatinnya beserta dengan hand bag dan juga key holder Rilakkuma?

  1. Follow twitter @exewriyan @kura_jjang (Clara Canceriana) @BentangPustaka
  2. Share post blog ini di twitter juga. Dengan #HappinessIsYou
  3. Mention twitter ke @exewriyan / tulis di kolom komentar blog dengan menjawab "Kebahagiaan menurut kalian itu apa sih?"
  4. Misalnya, Kebahagiaan bagiku adalah bila dekat di samping dirimu @exewriyan #HappinessIsYou. Bila tulis di kolom komentar sertakan akun twitter-nya. 
  5. Giveaway diadakan hingga tanggal 19 Januari pukul 23:59 WIB.
  6. Akan dipilih satu pemenang yang mendapatkan satu buah Happiness is You dengan hand bag dan juga key holder Rilakkuma.
  7. Pemenang akan diumumkan tanggal 20 Januari 2017, diberitahu lewat twitter dan juga blog. 
  8. Bila setelah diumumkan pemenang tidak memberi kabar 2x24 Jam maka pemenang akan diganti ke yang lain.

Gampang bukan? Bila ada yang ingin ditanyakan mengenai giveawaynya bisa kontak ke twitter / Instagram: @exewriyan.

Jadi sekian dan sampai jumpa di review-review buku lainnya~
-RR-


Note: Buat teman-teman penulis yang ingin menyelanggarakan blog tour atau ingin bukunya di-review bisa kirim-kirim pesan di-twitter dan email yang tertera di twitter.   

Saturday, December 31, 2016

2017


  • Nulis ulang BaseLove
  • Nusa 20
  • Daily Painting (target setahun) 
  • Oil & Acrylic Painting
  • Tanpa Judul lolos
  • Jual hasil lukisan? 
  • Beli kamera
  • Selesai dua naskah
  • Produktif nulis blog
  • lebih banyak baca buku
  • youtube lancar jalan?

Semoga akan konsisten dijalankan dan direalisasikan? Hmmm~ 

Tuesday, December 20, 2016

Malam

instagram.com/exewriyan

Bersama hujan diluar aku menari
Setiap bulir menusuk kulit perih
Buram aku melihat diri
Selama waktu terus bergulir lirih

Hitam bukan berarti luka
Putih hanya umpama kata
Kita memandang bintang di langit
Tak menyangka tak terucap lewat kata

Hujan kembali datang
Kembali aku menghitung bulir air
Hilang perih terbawa angin
Hanya lirih selalu menjumpai

Kita mulai melukis bulan
Sembari air mata bercucuran
Berbisiklah pada langit
Akan kita tunjukan kesedihan yang sejati

Sebuah cerita tentang hitam dan putih
Berkeping-keping dan lirih

Tuesday, September 6, 2016

Senja Yang Tak Lagi Sama


Senja selalu memperlihatkan sisi magisnya setiap kali aku menatapnya. Biru langit yang perlahan berubah warna itu mempertunjukan padaku bahwa kehidupan ini selalu akan berubah seiring waktu. Begitu dengan kita yang sedang menikmati senja berdua, perlahan kita mulai berubah.
 
Entah sejak senja yang keberapa tetapi aku merasakannya. 

Lain hati sudah kamu berdiri di sampingku. Seraya melihat burung-burung camar terbang entah pulang ke sangkarnya atau bahkan pergi mencari sangkar barunya. Apa perlu kita kembali ke situasi awal di mana hati ini senantiasa pulang ke rumahnya atau terbang mencari rumah yang baru? Dua pilihan yang selalu kutemui selama ini dan harus ada yang dikorbankan, entah itu kebahagiaanmu atau cintaku. 

"Aku merasa jalanku sudah tidak sejalan denganmu," ucapmu yang selalu kutakutkan itu terucap juga olehmu.

Matamu menatapku penuh rasa bersalah, aku tidak bisa menghindarinya karena mungkin tatapanmu ini yang terakhir untukku. 

"Aku minta maaf."

Tidak ada yang bisa kusalahkan padamu, mengapa kamu harus meminta maaf padaku? Aku yang mungkin harus meminta maaf padamu. Selama ini mungkin aku yang selalu tidak bisa menjaga perasaan kita, hingga kamu berjalan di jalan yang lain. 

"Untuk apa?"

Langkahmu sudah di jalan yang lain, jadi untuk apa kamu meminta maaf. Semua sudah terjadi, tidak ada yang bisa kita ubah dan perbaiki. Satu-satunya yang tersisa hanya kamu yang berjalan menjauh dariku, aku bisa apa? Bila aku mengejarmu mungkin kamu akan berlari menjauh ketakutan. 

"Atas semua yang sudah terjadi. Semua yang sudah berubah. Semua yang tidak lagi berada di jalanmu atau jalanku."

Namun hati ini masih tidak dapat menerimanya. Sehingga perlahan ada retak-retak kecil yang akan menimbulkan perasaan sakit yang pernah kualami. Semacam hukum sebab akibat, bila aku ingin tidak merasakan apa yang pernah kualami tersebut harus ada yang dikorbankan seperti yang sudah kujelaskan. 

Gak, seharusnya aku tidak berbuat seperti ini.

"Tahan, sedikit lagi saja. Aku mungkin bisa memperbaikinya."

Apa memang bisa kuperbaiki dari semua ini? Aku meragukan hal tersebut, tetapi aku masih ingin berusaha untuk bisa berjalan sejalan denganmu. Bersisian satu sama lainnya, mempertahankan apa yang sudah kita lewati bersama. Berusaha melewati semua rintangan, betul ini cuma satu di antara rintangan-rintangan yang menghalangi kita, bukan?

Hingga kamu menyadariku.

"Untuk apa? Semua sudah terjadi, aku gak mau lebih menyakitimu lebih dari ini." 

Namun memang sudah tidak ada lagi yang bisa kuharapkan. Semua sudah selesai, begitu juga aku yang melepaskanmu untuk kebahagiaanmu dan mengorbankan cintaku. Di sini aku yang mungkin tersakiti, karena sampai terakhir aku tahu bahwa cintaku lebih dari yang kubayangkan dibandingkan cintamu. Jadi di sinilah jalan kita bercabang, mengucapkan salam perpisahan. Selamat tinggal.

Saturday, September 3, 2016

[Cerpen] Pada Sebuah Pertemuan


Sudah lama sekali aku menantinya.

Hari di mana aku dapat melihat wajahmu kembali setelah sekian tahun lamanya. Ajakanmu lewat surat elektronik itu pun aku langsung iyakan. Saat aku membacanya rasanya dada ini bergemuruh hebat. Seketika pula seluruh badanku terasa kaku di tempat, karena kamu sendiri yang mengajak bertemu.

Kamu perlu tahu bahwa sehari sebelum aku membaca ajakanmu tersebut aku sempat memimpikanmu dalam tidurku. Bahkan aku terheran sendiri saat aku terbangun dan meyadari bahwa aku tidak berada di sudut taman kesukaanmu. Ini yang pertama kalinya setelah sekian tahun lamanya pula.

Pada akhirnya aku punya satu jadwal di luar setelah dua minggu ini aku tidak ada meeting atau hangout ke luar. Memang sudah waktunya pula aku mengisi ulang pikiran yang sedang buntu. Ajakanmu datang tepat waktu, pikirku.

Di sinilah aku sekarang, di tempat yang kamu sarankan. Sebuah kafe mungil di pinggir kota besar ini. Datang sebelum waktu yang kita sepakati bersama. Simpel, karena aku suka menunggu, terlebih yang sekarang kutunggu adalah kamu. Cuaca di luar pun cukup cerah di musim penghujan begini, petanda yang baik akan pertemuan kita, bukan?

"Hai," ucapmu selagi aku sibuk dengan kalender smartphone.

Senyumku melebar saat melihat wajahmu yang tidak begitu berubah sejak terakhir kali aku melihatnya. Mungkin gaya rambutmu yang diurai begitu saja yang terlihat sedikit berbeda. Kamu duduk di hadapanku sembari menaruh tas jinjit. Aku menyuruhmu untuk memesan minum pada pelayan kafe.

"Rasanya sudah lama sekali ya, lima, enam tahun?" ucapmu begitu selesai memesan dan serius menatapku.

Lima atau enam tahun buatku hanya berupa angka kecil, jauh dibandingkan bagaimana kita berdua menjalani hidup masing-masing. Kamu pun sadar akan hal tersebut makanya dibuat berlebihan seakan memang setara dengan apa yang kita lewati. Waktu memang berputar cepat tetapi value yang kita lewati sungguh luar biasa.

"Iya, saat reuni terakhir yang aku datangi."

"Aku terakhir dua tahun yang lalu dan benar kamu gak ada."

Aku tahu akan fakta itu, dua tahun yang lalu salah satu dari teman sekelas memberitahukanku. Saat itu dia memang sedang berkunjung seminggu setelah reuni. Mengantarkan sebuah undangan yang tidak bisa aku kunjungi. Aku mendengarnya bahwa kamu mencariku saat reuni tersebut,

"Maaf kalau ganggu hari kerjamu," ucapmu begitu merasa basa-basi ini tidak berujung.

"Haha, gak lah. Jam kerjaku kan fleksibel."

Pembicaraan kita berlanjut ke hal-hal yang cukup random seperti biasanya. Tidak ada dari kita yang tidak bosan membicarakan hal-hal yang sudah sering kita bicarakan sebelumnya. Bahkan hal-hal yang sudah kita lakukan beberapa tahun terakhir ini.

Bernostalgia dengan keadaan.

Bernostalgia dengan waktu.

Terakhir bertemu denganmu juga seperti ini, sudah melewati lima tahun dan kita masih sama. Tidak ada yang berubah pada kita. Aku mulai bertanya-tanya akan sebuah kemungkinan kita. Begitu pula dengan sebuah ceritamu yang tidak pernah diakhiri tersebut. Cerita tentang seorang yang kamu kagumi itu.

Tidak terasa pula waktu yang cepat bergulir, sore mulai meredup, orang semakin berlalu-lalang di luar. Kafe mulai didatangi banyak orang dan kita masih senantiasa pada cerita-cerita tentang perjalanan ke tempat impianmu, Italia. Dengan cangkir-cangkir kopi yang mulai diambil kembali oleh pelayan.

Tidak ada dari kita yang ingin mengakhiri pertemuan ini.

Hingga kita dipaksa oleh waktu yang masih cepat bergulir. Di sinilah titik yang kita hindari, sebuah perpisahan. Dingin malam pun menghantarkan sisa-sisa hari ini, menyelimuti sisi kota yang mulai lelah.

"Apa perlu aku antarkan kamu hingga studiomu?" tanyamu seakan ingin memperpanjang hari ini.

Hingga di saat terakhir pun senyummu masih merekah, walau kita sama-sama tahu bahwa setelah ini kita akan melewati hari-hari panjang lainnya.

"Tidak perlu, pegawaiku sudah ada yang menjemput ke sini."

"Begitu?"

Ini pertama kalinya ada hening di antara kita hari ini. Kata-kata seakan membeku diam tidak terucap, begitu dengan tatapan kita. Aku baru sadar bahwa matamu cukup bersinar pada gelapnya malam.

Jernih, benderang.

"Kalau begitu aku duluan."

Belum juga berpaling balik menuju tempat parkir mobil, kamu berhenti bergerak dan menatapku kembali.

"Hari ini terima kasih, I hope we can meet again," ucapmu pelan terdengar jelas.

Jangan berterima kasih padaku karena aku tahu apa yang telah kamu lalui selama ini. Seharusnya pula aku yang harus berterima kasih padamu karena setelah selama ini kamu masih datang padaku. Terima kasih karena aku masih dapat bertemu, berbicara, dan melihat senyum dan matamu tersebut.

"Kamu tahu cara menghubungiku bila ingin bertemu saat ada sesuatu yang mengganggu hari-harimu."

Itu dia, senyummu masih merekah walau aku tahu kamu berusaha tegar dan tidak ingin mempertunjukannya. Aku tahu karena matamu berbicara lebih dari senyummu itu. Aku hanya berharap pertemuan ini dapat berguna untuk masing-masing dari hari-hari kita, khususnya kamu.

Tidak lama kemudian kamu mengangguk pelan, kulihat ke belakang sudah ada pegawaiku yang datang menjemput.

"Kalau begitu aku duluan," ucapmu dan berbalik jalan menuju mobilmu terparkir.

Berdiri juga kita di titik perpisahan pada hari ini. Berakhir juga pertemuan ini, hal yang tidak ingin kita akhiri tersebut. Di mulai juga hari yang baru untuk kita, karena memang sudah berganti, tepat jam dua belas malam.

Waktu memang masih cepat bergulir.

"Sudah lama nunggu, Mas?" tanya pegawaiku sopan.

Aku hanya menggelengkan kepala dan masih menatap kamu hingga masuk ke dalam mobil.

"Hmm, Mas, perempuan barusan itu yang ada di studio, bukan? Lukisan yang besar itu."

"Hahaha, matamu jeli juga. Anak-anak bagaimana? Masih di studio?" tanyaku langsung karena takjub  pegawaiku ini menyadari hal tersebut.

"Pas pergi ke sini sih lagi pada istirahat main playstation. Kayaknya sih pada sepakat untuk lembur."

"Kalau begitu kita mampir ke fast food 24 jam, aku traktir semuanya."

Hari kita dimulai dengan menuju jalan yang berlawanan. Aku berharap jalanmu tidak menghambatmu berjalan. Berharap juga jalanmu menemui sebuah persimpangan untuk berhenti sejenak dan mengamati sekelilingmu. Bahwa di ujung jalan yang lain aku dengan senantiasa menunggumu selalu.

Dengan atau tanpa apa yang kita sebut cinta.

Tuesday, August 30, 2016

Kisah Tentang Hujan

Bila bicara tentang hujan, aku menyebutnya memori.
Bila bicara tentang angin, aku menyebutnya kenangan.
Bila bicara tentang dingin, aku menyebutnya ciuman.
Bila bicara tentang petir, aku menyebutnya pelukan.
Bila bicara tentang basah, aku menyebutnya kehangatan.
Tapi bila bicara tentang aku, apakah kamu akan menyebutnya cinta?


*Diambil dari gallerywords.wordpress.com ^^

Sunday, August 28, 2016

Orange*

pixabay.com

Saat diriku masih berumur 9-12 tahun aku tidak memikirkan bahwa sepuluh tahun yang akan datang akan seperti sekarang. Mungkin kalian akan menyebutnya menyedihkan, buruk, aneh, gak masuk akal. Hal itu sudah biasa aku dapatkan dari kalian kala sebelum berada di titik sekarang. Aku cuma meneruskannya, mungkin. 

Bagiku ini semua adalah sebuah proses. Tentu yang terlihat berbeda dari apa yang kalian sebut proses. Sekali lagi, mungkin. Di sini aku akan menyebutkan banyak kemungkinan, pahamilah. 

Kembali ke masa anak berumur 9-12 tahun tersebut, aku selalu memimpikan banyak hal. Kala itu aku pernah memimpikan akan menjadi seorang guru. Ada satu guruku yang mengatakan bahwa ilmu yang kita dapatkan haruslah kalian beri kembali pada orang lain. Maka dari itu aku pernah memimpikan hal tersebut. 

Aku juga pernah memimpikan akan berada di titik akan memakai dasi rapi, kemeja putih yang bersih, dan juga jas hitam yang gagah. Kala itu aku melihat sosok Ayah yang keren di mataku, aku memimpikan memakai apa yang sedang dipakai Ayah tersebut. 

Selama sepuluh tahun kemudian aku berubah pikiran dalam perjalanannya. Tentu dengan mimpi-mimpi yang lain. Hingga di titik sekarang aku sadar bahwa sudah lama sekali perjalananku ini. Dan menghancurkan mimpi anak berumur 9-12 tahun tersebut. Walau tidak bisa dibilang benar-benar menghancurkannya. Maksudku di titik sekarang tidak ada lagi pikiran-pikiran spontan seperti saat berumur 9-12 tahun. Semua harus aku cerna baik-baik dan kuproses dengan apa yang kusebut ideologi. 

Ideologi yang mungkin terlihat menyedihkan, buruk, aneh, dan gak masuk akal itu. 

Di titik sekarang aku melihat kalian yang penuh bangga, bahagia, dan dapat dipertunjukan kepada dunia, katanya. Bahwa diri kalian sedang menapaki satu proses yang tidak dapat kulakukan atau lebih tepatnya tidak diselesaikan. Dan mungkin seharusnya aku berada di titik tersebut dengan kalian. 

Tidak ada yang disesali, ucapku dengan penuh bangga. 

Aku sadar bahwa hidup ini memang beragam caranya, beragam jalannya, dan aku memilih jalan yang sedang kutapaki ini. Aku hanya menciptakan tantanganku sendiri, membuat situasi yang harus kuhadapi. Dan ini caraku untuk berjalan, caraku untuk terus bergerak, caraku untuk terus melawan tantangan itu. 

Pada anak yang berumur 9-12 tahun itu, aku hanya ingin minta maaf bahwa jalanmu akan sedikit berbeda. 

Pada laki-laki 5-10 tahun yang akan datang, aku hanya ingin bilang, semangat dan jangan menyerah!




*Ide tulisan ini karena terinspirasi pada film dan anime Orange~