Showing posts with label Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Fiksi. Show all posts

Thursday, November 22, 2018

Satu Bab dari Judul yang Tidak Rampung saat Nanowrimo 2017

BAB X1 – HEADS (PU)
Sebuah ruangan dengan pintu hitam pekat terasa sangat misterius. Di pintu tersebut terdapat papan metalik dengan grafir kata, tertulis HEADS. Seseorang melangkah mendekat ruangan tersebut dan berhenti di depan pintu, melirik kanan dan kirinya, memastikan tidak ada siapa-siapa di sekelilingnya. Sosok pria itu mengetuk pintunya tiga kali, terdengar seseorang dari dalam.
Pintu terbuka.
Bagaimana keadaan?”
Semua persiapan sudah mendekati akhir,” ucap pria yang baru saja memasuki ruangan tersebut.
Pria tersebut sedang menghadap meja dan kursi yang cukup besar di hadapannya. Di kursi tersebut terdapat sosok pria yang terlihat lebih tua darinya. Sedang menatapnya serius dengan kharismanya yang ada.
Lalu? Mengapa kamu ke sini?”
Ada tamu dan beliau menunggu di ruang tunggu. Apa saya panggilkan ke sini, Master Heads?”
Siapa?”
Beliau menyebut dirinya Titor Junior.”
Pria dengan sebutan Master Heads tersebut sedikit termenung mendengar nama tersebut. Heads merasa ada yang aneh dengan nama tersebut. Nama tersebut seharusnya tidak ada, ia tahu betul. Ia berasumsi bahwa ada orang tersebut sedang menyamarkan namanya.
Selagi saya tak ada kerjaan, mungkin boleh kamu panggil orang tersebut ke sini. Saya penasaran.”
Pria tersebut keluar ruangan. Heads masih berpikir panjang dan mengetik pada komputernya. Titor Junior. Ia memastikan memang tidak ada nama tersebut dalam database rahasianya. Siapa yang memakai nama orang tersebut?
Pintu pun kembali tedengar terketuk.
Sosok pria lain masuk ke dalam ruangan tersebut dengan ekspresi datarnya. Heads menghela napasnya berat sembari menyentuh kepalanya.
Saya kira siapa, ternyata anda yang bernama Titor Junior.”
Oh, come on. Tidak usah terlalu formal seperti saat pertama kali bertemu. Bukankah kita teman?”
Pria yang menyebut dirinya Titor ini mendekat dan duduk di hadapan Heads tanpa sungkan. Seakan pertemuan seperti ini layaknya pertemuan biasa.
Heads, nama yang aneh,” ucap Titor melihat plakat nama di meja tersebut.
Bercerminlah!”
Setidaknya nama ini punya sejarahnya di sini.”
Lalu, mengapa repot-repot datang kemari, perjalanan yang cukup jauh, bukan?”
Titor menatap Heads dengan penuh keseriusan yang ada. Tidak menyangka bahwa dirinya bertemu dengan situasi yang rumit seperti ini. Situasi yang mungkin tidak terbayangkan olehnya di sini.
Seperti biasa. Selalu tanpa basa-basi. Straight to the point,” ucap Titor yang merasa dirinya tidak siap.
Heads hanya menatap balik tatapan Titor tersebut. Acuh dengan pernyataan Titor barusan. Setidaknya Ia membenarkan fakta tersebut. Sudah kebiasaan.
Tujuanku di sini? Menghentikanmu.”
Sudah kuduga, tapi yang jelas ini semua perintah atasan. Aku dikirim ke sini untuk menjalankan misi rahasia ini. Aku tak tahu siapa yang membocorkan ini kepadamu, tetapi aku tidak akan berhenti,” ucap Heads.
Tapi ini semua salah! Masih ada cara lainnya. Kamu tahu ini terlalu beresiko, tidak akan ada yang tahu hasilnya bagaimana. Semuanya akan berubah!”
Bukankah itu yang menyenangkan. Mengubah semua, bermain sebagai Tuhan.”
Sudah kuduga kamu akan berkata demikian.”
Titor merasa tidak ada gunanya.
Oh dan satu hal lagi, aku tidak akan membiarkanmu begitu saja.”
Heads membuka salah satu laci mejanya dan mengambil benda yang sudah lama bersarang di sana. Akhirnya waktunya tiba untuk dipakai di saat yang tepat. Dia mengeluarkannya dari laci dan menyiapkan element terpentingnya.
Ouch, revolver. Klasik.”
Seperti dugaan Titor, dirinya sudah memperhitungkan resiko ini bahwa ia tidak akan dapat kembali ke tempatnya. Dirinya tahu, tetapi untuk terakhir kalinya ia ingin melihat temannya tersebut, berusaha berbicara padanya, memperingatinya. Hanya saja, temannya tersebut sudah bertekad besar dengan apa yang harus dilakukannya.
Sebagai temannya Titor sudah melakukan apa yang dirinya bisa. Bahkan pergi menghampiri temannya di sini adalah perjuangan besar walau memakan banyak yang berharga. Baginya itu yang pertama dan yang terakhir bermain dengan nyawa.
Kini nyawanya yang diancam, terancam.
Tidak ada efeknya bukan bila aku membunuhmu di sini?” tanya Heads sambil mengangkat revolver-nya tersebut menghadap Titor.
Oh tentu tidak, tapi ingat satu hal. Yang bisa mengalahkanmu hanya aku seorang. Kita akan berjumpa lagi.”
Aku menunggunya!” ucap Heads menarik pelatuk revolver-nya.
Pelurunya melesat menuju tepat di dada kiri Titor. Seakan waktu berjalan lambat, Titor untuk yang terakhir kalinya melihat temannya tersebut dengan tersenyum. Sampai di sini pun temannya itu masih bersikap baik padanya, dirinya mengincar jantung di bandingkan otak. Ia tahu bahwa dirinya akan bertemu kembali lagi di alam sana. Dirinya menebak salah satu dari dua tempat suci, neraka. Tempat yang pantas untuk kedua orang tersebut.
...... Octavius.”

Sunday, January 22, 2017

Rintik Air Terakhir Itu


Bagai malam menyambut fajar, maaf bila mengganggu mimpi malammu yang nyenyak. Aku hanya ingin terjaga dan melihat wajahmu yang mungkin untuk terakhir kalinya. Firasatku mengatakan bahwa aku tidak bisa kembali di sampingmu lagi. Lekuk wajahmu akan kuingat selalu, walau mungkin kamu akan melupakan bentuk rupaku.

Sekalipun aku tidak ingin meninggalkanmu, percayalah. Aku bahkan tidak berniat melupakan seulas senyummu itu, percayalah. Dan juga matamu yang bersinar itu, walau rintik air keluar darinya, percayalah. Ini terakhir kalinya aku mengusap air matamu, tolong berhentilah. Aku tidak ingin mengingat perpisahan seperti ini, maka berhentilah dan aku hanya ingin melihat senyummu. 

Memohonlah pada keyakinanmu untuk membawaku pulang bila kamu ingin bertemu denganku lagi. Mungkin Tuhan akan mendengarnya dan aku berada di sisimu, di hadapanmu, atau mungkin di belakangmu, dalam wujud yang berbeda. Aku dengar Tuhan selalu akan memberikan apa yang menjadi hakmu kelak. Berpikirlah bahwa salah satunya adalah diriku. 

Waktunya tiba sudah untuk pergi, hujan datang untuk menjemput. Maaf. Maaf. Maaf. Yang keempat akan kuucapkan bila kita bertemu lagi. Yang kelima bila suatu saat nanti aku menghilang lagi. Begitu seterusnya hingga kita sama-sama tidak bertemu kembali. 

Rintik air terakhir di luar sana batas waktuku untuk berada di sisimu. Aku harap kamu akan selalu mengingatnya walau terasa perih, tetapi di sana aku akan melewati masa yang sama denganmu. Perasaan yang sama denganmu. Dan mungkin perih yang sama dengan yang kamu rasakan.

Terima kasih, karena aku merasa aku akan melewati semua ini seperti yang sudah kita lewati. Pada akhirnya kita memang bersama walau tempatnya sudah bukan tempat yang sama denganmu. Dan seperti ucapanku, aku tidak sepenuhnya meninggalkanmu, percayalah.


Tuesday, December 20, 2016

Malam

instagram.com/exewriyan

Bersama hujan diluar aku menari
Setiap bulir menusuk kulit perih
Buram aku melihat diri
Selama waktu terus bergulir lirih

Hitam bukan berarti luka
Putih hanya umpama kata
Kita memandang bintang di langit
Tak menyangka tak terucap lewat kata

Hujan kembali datang
Kembali aku menghitung bulir air
Hilang perih terbawa angin
Hanya lirih selalu menjumpai

Kita mulai melukis bulan
Sembari air mata bercucuran
Berbisiklah pada langit
Akan kita tunjukan kesedihan yang sejati

Sebuah cerita tentang hitam dan putih
Berkeping-keping dan lirih

Tuesday, September 6, 2016

Senja Yang Tak Lagi Sama


Senja selalu memperlihatkan sisi magisnya setiap kali aku menatapnya. Biru langit yang perlahan berubah warna itu mempertunjukan padaku bahwa kehidupan ini selalu akan berubah seiring waktu. Begitu dengan kita yang sedang menikmati senja berdua, perlahan kita mulai berubah.
 
Entah sejak senja yang keberapa tetapi aku merasakannya. 

Lain hati sudah kamu berdiri di sampingku. Seraya melihat burung-burung camar terbang entah pulang ke sangkarnya atau bahkan pergi mencari sangkar barunya. Apa perlu kita kembali ke situasi awal di mana hati ini senantiasa pulang ke rumahnya atau terbang mencari rumah yang baru? Dua pilihan yang selalu kutemui selama ini dan harus ada yang dikorbankan, entah itu kebahagiaanmu atau cintaku. 

"Aku merasa jalanku sudah tidak sejalan denganmu," ucapmu yang selalu kutakutkan itu terucap juga olehmu.

Matamu menatapku penuh rasa bersalah, aku tidak bisa menghindarinya karena mungkin tatapanmu ini yang terakhir untukku. 

"Aku minta maaf."

Tidak ada yang bisa kusalahkan padamu, mengapa kamu harus meminta maaf padaku? Aku yang mungkin harus meminta maaf padamu. Selama ini mungkin aku yang selalu tidak bisa menjaga perasaan kita, hingga kamu berjalan di jalan yang lain. 

"Untuk apa?"

Langkahmu sudah di jalan yang lain, jadi untuk apa kamu meminta maaf. Semua sudah terjadi, tidak ada yang bisa kita ubah dan perbaiki. Satu-satunya yang tersisa hanya kamu yang berjalan menjauh dariku, aku bisa apa? Bila aku mengejarmu mungkin kamu akan berlari menjauh ketakutan. 

"Atas semua yang sudah terjadi. Semua yang sudah berubah. Semua yang tidak lagi berada di jalanmu atau jalanku."

Namun hati ini masih tidak dapat menerimanya. Sehingga perlahan ada retak-retak kecil yang akan menimbulkan perasaan sakit yang pernah kualami. Semacam hukum sebab akibat, bila aku ingin tidak merasakan apa yang pernah kualami tersebut harus ada yang dikorbankan seperti yang sudah kujelaskan. 

Gak, seharusnya aku tidak berbuat seperti ini.

"Tahan, sedikit lagi saja. Aku mungkin bisa memperbaikinya."

Apa memang bisa kuperbaiki dari semua ini? Aku meragukan hal tersebut, tetapi aku masih ingin berusaha untuk bisa berjalan sejalan denganmu. Bersisian satu sama lainnya, mempertahankan apa yang sudah kita lewati bersama. Berusaha melewati semua rintangan, betul ini cuma satu di antara rintangan-rintangan yang menghalangi kita, bukan?

Hingga kamu menyadariku.

"Untuk apa? Semua sudah terjadi, aku gak mau lebih menyakitimu lebih dari ini." 

Namun memang sudah tidak ada lagi yang bisa kuharapkan. Semua sudah selesai, begitu juga aku yang melepaskanmu untuk kebahagiaanmu dan mengorbankan cintaku. Di sini aku yang mungkin tersakiti, karena sampai terakhir aku tahu bahwa cintaku lebih dari yang kubayangkan dibandingkan cintamu. Jadi di sinilah jalan kita bercabang, mengucapkan salam perpisahan. Selamat tinggal.

Saturday, September 3, 2016

[Cerpen] Pada Sebuah Pertemuan


Sudah lama sekali aku menantinya.

Hari di mana aku dapat melihat wajahmu kembali setelah sekian tahun lamanya. Ajakanmu lewat surat elektronik itu pun aku langsung iyakan. Saat aku membacanya rasanya dada ini bergemuruh hebat. Seketika pula seluruh badanku terasa kaku di tempat, karena kamu sendiri yang mengajak bertemu.

Kamu perlu tahu bahwa sehari sebelum aku membaca ajakanmu tersebut aku sempat memimpikanmu dalam tidurku. Bahkan aku terheran sendiri saat aku terbangun dan meyadari bahwa aku tidak berada di sudut taman kesukaanmu. Ini yang pertama kalinya setelah sekian tahun lamanya pula.

Pada akhirnya aku punya satu jadwal di luar setelah dua minggu ini aku tidak ada meeting atau hangout ke luar. Memang sudah waktunya pula aku mengisi ulang pikiran yang sedang buntu. Ajakanmu datang tepat waktu, pikirku.

Di sinilah aku sekarang, di tempat yang kamu sarankan. Sebuah kafe mungil di pinggir kota besar ini. Datang sebelum waktu yang kita sepakati bersama. Simpel, karena aku suka menunggu, terlebih yang sekarang kutunggu adalah kamu. Cuaca di luar pun cukup cerah di musim penghujan begini, petanda yang baik akan pertemuan kita, bukan?

"Hai," ucapmu selagi aku sibuk dengan kalender smartphone.

Senyumku melebar saat melihat wajahmu yang tidak begitu berubah sejak terakhir kali aku melihatnya. Mungkin gaya rambutmu yang diurai begitu saja yang terlihat sedikit berbeda. Kamu duduk di hadapanku sembari menaruh tas jinjit. Aku menyuruhmu untuk memesan minum pada pelayan kafe.

"Rasanya sudah lama sekali ya, lima, enam tahun?" ucapmu begitu selesai memesan dan serius menatapku.

Lima atau enam tahun buatku hanya berupa angka kecil, jauh dibandingkan bagaimana kita berdua menjalani hidup masing-masing. Kamu pun sadar akan hal tersebut makanya dibuat berlebihan seakan memang setara dengan apa yang kita lewati. Waktu memang berputar cepat tetapi value yang kita lewati sungguh luar biasa.

"Iya, saat reuni terakhir yang aku datangi."

"Aku terakhir dua tahun yang lalu dan benar kamu gak ada."

Aku tahu akan fakta itu, dua tahun yang lalu salah satu dari teman sekelas memberitahukanku. Saat itu dia memang sedang berkunjung seminggu setelah reuni. Mengantarkan sebuah undangan yang tidak bisa aku kunjungi. Aku mendengarnya bahwa kamu mencariku saat reuni tersebut,

"Maaf kalau ganggu hari kerjamu," ucapmu begitu merasa basa-basi ini tidak berujung.

"Haha, gak lah. Jam kerjaku kan fleksibel."

Pembicaraan kita berlanjut ke hal-hal yang cukup random seperti biasanya. Tidak ada dari kita yang tidak bosan membicarakan hal-hal yang sudah sering kita bicarakan sebelumnya. Bahkan hal-hal yang sudah kita lakukan beberapa tahun terakhir ini.

Bernostalgia dengan keadaan.

Bernostalgia dengan waktu.

Terakhir bertemu denganmu juga seperti ini, sudah melewati lima tahun dan kita masih sama. Tidak ada yang berubah pada kita. Aku mulai bertanya-tanya akan sebuah kemungkinan kita. Begitu pula dengan sebuah ceritamu yang tidak pernah diakhiri tersebut. Cerita tentang seorang yang kamu kagumi itu.

Tidak terasa pula waktu yang cepat bergulir, sore mulai meredup, orang semakin berlalu-lalang di luar. Kafe mulai didatangi banyak orang dan kita masih senantiasa pada cerita-cerita tentang perjalanan ke tempat impianmu, Italia. Dengan cangkir-cangkir kopi yang mulai diambil kembali oleh pelayan.

Tidak ada dari kita yang ingin mengakhiri pertemuan ini.

Hingga kita dipaksa oleh waktu yang masih cepat bergulir. Di sinilah titik yang kita hindari, sebuah perpisahan. Dingin malam pun menghantarkan sisa-sisa hari ini, menyelimuti sisi kota yang mulai lelah.

"Apa perlu aku antarkan kamu hingga studiomu?" tanyamu seakan ingin memperpanjang hari ini.

Hingga di saat terakhir pun senyummu masih merekah, walau kita sama-sama tahu bahwa setelah ini kita akan melewati hari-hari panjang lainnya.

"Tidak perlu, pegawaiku sudah ada yang menjemput ke sini."

"Begitu?"

Ini pertama kalinya ada hening di antara kita hari ini. Kata-kata seakan membeku diam tidak terucap, begitu dengan tatapan kita. Aku baru sadar bahwa matamu cukup bersinar pada gelapnya malam.

Jernih, benderang.

"Kalau begitu aku duluan."

Belum juga berpaling balik menuju tempat parkir mobil, kamu berhenti bergerak dan menatapku kembali.

"Hari ini terima kasih, I hope we can meet again," ucapmu pelan terdengar jelas.

Jangan berterima kasih padaku karena aku tahu apa yang telah kamu lalui selama ini. Seharusnya pula aku yang harus berterima kasih padamu karena setelah selama ini kamu masih datang padaku. Terima kasih karena aku masih dapat bertemu, berbicara, dan melihat senyum dan matamu tersebut.

"Kamu tahu cara menghubungiku bila ingin bertemu saat ada sesuatu yang mengganggu hari-harimu."

Itu dia, senyummu masih merekah walau aku tahu kamu berusaha tegar dan tidak ingin mempertunjukannya. Aku tahu karena matamu berbicara lebih dari senyummu itu. Aku hanya berharap pertemuan ini dapat berguna untuk masing-masing dari hari-hari kita, khususnya kamu.

Tidak lama kemudian kamu mengangguk pelan, kulihat ke belakang sudah ada pegawaiku yang datang menjemput.

"Kalau begitu aku duluan," ucapmu dan berbalik jalan menuju mobilmu terparkir.

Berdiri juga kita di titik perpisahan pada hari ini. Berakhir juga pertemuan ini, hal yang tidak ingin kita akhiri tersebut. Di mulai juga hari yang baru untuk kita, karena memang sudah berganti, tepat jam dua belas malam.

Waktu memang masih cepat bergulir.

"Sudah lama nunggu, Mas?" tanya pegawaiku sopan.

Aku hanya menggelengkan kepala dan masih menatap kamu hingga masuk ke dalam mobil.

"Hmm, Mas, perempuan barusan itu yang ada di studio, bukan? Lukisan yang besar itu."

"Hahaha, matamu jeli juga. Anak-anak bagaimana? Masih di studio?" tanyaku langsung karena takjub  pegawaiku ini menyadari hal tersebut.

"Pas pergi ke sini sih lagi pada istirahat main playstation. Kayaknya sih pada sepakat untuk lembur."

"Kalau begitu kita mampir ke fast food 24 jam, aku traktir semuanya."

Hari kita dimulai dengan menuju jalan yang berlawanan. Aku berharap jalanmu tidak menghambatmu berjalan. Berharap juga jalanmu menemui sebuah persimpangan untuk berhenti sejenak dan mengamati sekelilingmu. Bahwa di ujung jalan yang lain aku dengan senantiasa menunggumu selalu.

Dengan atau tanpa apa yang kita sebut cinta.

Saturday, July 2, 2016

Siklus Julius

Setiap hari berkurang
Perlahan kata-kata dituliskan
Bersemayam di sana penuh mimpi

Setiap bulan berhitung
Menyadari sesuatu yang abstrak
Kala semua redup penuh cahaya

Setiap tahun menanti
Hingga kupu-kupu terbang tinggi
Di sini aku merindukanmu lagi


Thursday, June 30, 2016

Rindu dengan Titik

Mana kala bunga bermekaran
Biarlah angin menerpa
Mana kala rindu ini bermekaran
Biarlah hujan yang menyapunya

sebagai titik nyata selesainya kita

Tuesday, June 28, 2016

Titik Bisu

....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................

.....................................................................................

................................................................................................................................................................................................................................

............................

.................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................

..............................................................................................................................................................................................................................................................................


...........................

................

............................................................................


Sial!!!

Monday, June 27, 2016

Cengkeram Geram

Kala senja terbenam
Yakin hati ini temaram

Semua hanya kuasa alam

.... hingga lama membungkam
Terpuruk dalam dendam

Sunday, June 26, 2016

Hati Berbisik

Bila mana hujan rintik
Jangan pernah berbalik

Karena aku tahu hatimu tercabik

Saturday, June 25, 2016

Peduli Setan

Ini adalah sebuah percakapan aneh antara dua manusia yang tidak saling mencintai. 

"Kamu tahu tentang kotak Pandora?" 

"Tahu, kotak yang berisi banyak malapetaka itu." 

"Bayangkan kalau saja Pandora tidak membuka kotak tersebut! Apa dunia akan lebih damai dan tentram?" 

"Mengapa kamu memikirkan hal yang sungguh merepotkan seperti itu sih?" 

"Atau bayangkan kotak itu tidak akan pernah ada nyata. Mengapa repot-repot kotak itu menjadi wujud yang nyata bila suatu hari ada yang akan membukanya?" 

"Kamu kenapa sih, sakit?" 

"Atau bayangkan saja kotak itu malah berisi kebahagian dan kedamaian! Bukannya semuanya akan menjadi lebih baik lagi?" 

"Hmm, poin yang bagus, tapi serius kamu lagi gak ngobat kan?" 

"Bayangkan, mungkin dunia ini tidak akan sama seperti sekarang!" 

"Peduli apa kamu sama dunia yang sudah sekarat ini?" 

"Peduli setan sama dunia! Aku lebih memilih membuat kotak yang baru."

"Mau kemana kamu?!" 

"Menemui dewa yang lain." 

Wednesday, December 16, 2015

Merry Kissmas

Jakarta adalah jantung dan ibukota negara ini. Menjadikan kota tersibuk yang pernah ada. Populasi yang begitu banyak di dalamnya membuat banyak orang menambuh nasib di sini. Memasuki bulan Desember ibukota penuh dengan ornamen natal dan tahun baru di mana-mana. Membuat bulan ini penuh kerlap-kerlip dan harapan yang muncul setiap tahunnya.

Begitu pun denganku.

Aku memang tak pernah merayakan natal, hanya saja temanku selalu mengajakku jalan di malam natal. Tiap tahun aku selalu menunggunya, sudah menjadi kebiasaan kami merayakannya dengan cara yang lain. Semacam tahun kemarin kami melakukan kompetisi memotret hingga tengah malam. Kami mengitari kota Jakarta berdua dan memotret banyak momen di tengah hiruk pikuknya kota.

Tahun ini aku menunggu apa lagi yang akan kami lakukan di malam natal. Sebenarnya ada satu yang aku inginkan di natal tahun ini.

Aku ingin menciumnya.

Terdengar aneh bukan, tetapi aku sadar bahwa dirinya sangat berarti buatku setiap tahunnya. Tak hanya di hari natal, aku benar-benar ingin mengungkapkan rasa itu padanya. Yup, dengan menciumnya.

Entah mengapa setiap melihat temanku ini aku selalu melihat bibirnya yang menurutku kissable sekali. Mungkin terdengar sedikit pervert, tetapi aku selalu tak tahan melihat bibirnya.  Jadi malam natal nanti aku ingin sekali menciumnya, merasakan lembut bibirnya walau hanya sekilas.

"Kau dengar tidak? Kita ke bioskop nanti malam, nonton."

"Eh, aah iya-iya."

Aku sampai tak mendengar temanku ini berbicara tentang rencana kami malam natal nanti.

Malam itu pun datang. Kami berdua dengan semangat pergi ke bioskop di kota, menonton film yang sudah dia tunggu-tunggu dari beberapa bulan lalu. Temanku ini paling semangat bahkan sudah membeli tiketnya lewat mobile.

Kami menonton sekitar 90 menit, kami pun keluar teater.

"Seru bukan?"

"Hmm, lumayan."

Sudah hampir tengah malam, kami pun pulang ke rumah dengan jalan yang memutar. Dalam artian sebelum sampai rumah kami pergi menikmati angin malam natal hari ini. Menikmatinya berdua, hingga aku merasa darahku mengalir deras.

Sesampai di depan rumahku aku turun dari mobil sedannya. Begitu pun temanku ini.

"Ada apa Sha?"

Aku hanya mendekatinya saat ia bertanya. Hingga wajah kami hanya terpaut beberapa senti saja. Napasnya terasa di wajahku begitu pun sebaliknya. Dengan lembut aku mendekati bibirnya.

Lembut.

Tak ada tanda penolakan, malam natal ini begitu lengkap sudah. Apapun yang terjadi setelah ini, setidaknya aku mengungkapkannya. Lengkap sudah.

Aku pun perlahan mulai mundur dan tersipu malu menatapnya.

"Terima kasih untuk malam ini, Na."


Saturday, November 21, 2015

Next to Me

Kamar ini terlalu megah untuk gue. Gue bahkan kaget saat diajak ke sini, tak percaya bahwa klien kali ini ternyata benar-benar berduit. Gue mengambil ponsel  di coffee table dekat kasur, memeriksa jam. Jam dua dini hari, ternyata sudah sejam berada di kamar ini. Di kamar mandi terdengar air gemercik, laki-laki yang gue lupa namanya, entah Fredie atau Fendi sepertinya sedang membilas tubuh. Gue tanpa sengaja melihat segepok uang yang dia siapkan tadi di atas coffee table. Gue mengambilnya malas dan gue tak perlu menghitungnya kembali. Bisa menyewa kamar megah seperti ini tak mungkin tidak bisa membayar atas permainan yang hampir sejam barusan.
Sepertinya laki-laki yang sedikit bertambun itu sudah selesai dengan kamar mandinya. Gue juga mendengar pintu kamar terbuka dan tertutup. Sepertinya laki-laki tersebut sudah meninggalkan kamar ini dan gue sendirian sekarang. Gue hanya perlu check out pagi nanti dan menyuruh Boy untuk menjemput. Selama waktu itu gue tak bisa tertidur bahkan sesudah membilas tubuh sekalipun, karena sangat disayangkan bila kamar ini hanya untuk ditiduri saja. Kapan lagi coba menikmati sebotol wine yang disiapkan klien gue saat ditawari pihak hotel tadi. Maka dari itu gue sudah mengirim pesan untuk Boy untuk menjemput nanti pagi.
Saat pagi datang dengan sisa-sisa alcohol yang ada gue bersiap keluar dari kamar ini dan check out. Boy juga sudah berkali-kali menelepon dan tak gue angkat, sepertinya ia sudah berada di lobby. Benar saja, Boy langsung menghampiri saat selesai dengan resepsionis.
“Wow-wow, aku mencium alcohol. Kau minum?” ucapnya pertama kali, salahkan dia yang benar-benar mencari klien yang berduit dan tahu caranya menghamburkan uangnya.
“Salahkan klien yang kamu temui itu, dia benar-benar boros. Gue hampir menghambiskannya setengah botol.”
“Tapi gak lupakan sama bagianku, sepuluh persennya,” ucapnya menyebalkan dengan menengadah tangan kanannya.
Gue langsung mengambil amplop di tas jinjing yang sudah disiapkan atau disisihkan hasil uang yang gue dapat untuknya. Tak lama setelah itu gue tak begitu ingat karena mungkin gue tertidur dan juga efek alcohol gue sudah berada di kamarnya. Gue melihat Boy yang sedang meletakkan masakannya di meja makan.
“Sudah bangun? Ini ada sop gitu, makan yuk!”
Mau gak mau gue berjalan dan duduk manis di hadapannya. Gue pun menyuapkan sendok ke dalam mulut, mengunyahnya. Masakannya Boy selalu bisa membuat gue nambah hingga tak sadar bahwa berat badan juga ikut nambah. Perlahan sakit kepala gue juga mulai hilang.
“Kamu tahu, sebenarnya kamu bisa saja berhenti dari ini semua kalau mau, Raina.”
Gue tak tahu tiba-tiba saja Boy mengatakan ini. Padahal dia sendiri di awal yang menawari semua ini terlebih lagi gue memang butuh duit. Siapa sih yang tak butuh duit sekarang ini? Semua hal butuh duit. Begitu pula Boy, gue yakin dia butuh duit juga.
“Aku dapat banyak masukan dari beberapa klien kalau kamu ini terkadang mengintimidasi mereka akhir-akhir ini.”
Di sini sudah tak masuk akal menurut gue. Mereka menikmatinya dan mereka bilang begitu padanya? Apa sih semua laki-laki ini?
“Jadi kamu suruh gue berhenti?” tanya gue tak sabar.
“Bukan kamu, tapi kita. Aku juga akan berhenti, Raina.”
“Kenapa?” tanya gue kali ini kaget mendengar pernyataan tersebut.
“Aku ini cuma seorang amatir, Raina. Di luar sana masih banyak yang lebih professional dariku. Terlebih lagi aku merasa bersalah melihatmu yang sekarang, Raina.”
Gue benar-benar tak mengerti semua ini. Rasanya yang ia katakan ini terasa non-sense. Ia bersalah akan apa? Di luar banyak yang lebih professional, so what? Who care about it? Selama uang masuk gue gak mempermasalahkan hal tersebut.
“Kamu ingat pertama kali kamu datang dan bercerita tentang masalahmu dengan uang. Saat itu aku berharap bahwa aku tidak membeberkan identitasku ini. Sayangnya aku menawarkannya dan kamu menerimanya dengan entengnya. Aku menyesal karena itu.”
Gue mulai gak nafsu nambah makan lagi. Sayang saja nasi yang gue ambil tersiakan begitu saja. Ini benar-benar gak masuk akal.
“Menyesal bagaimana, kamu dapat bagiannya juga kan?”
“Ini yang aku maksud, Raina. Kamu hanya memikirkan uang saja. Kamu sudah berubah, Raina dan aku tanpa sadar ikut campur akan hal itu.”
Boy yang tetap menatap dengan tatapannya itu membuat gue merasa tak tahu akan maksud dari semua pembicaraan ini. Gue pun berdiri dan segera bergegas mengambil tas, ingin rasanya keluar dari apa yang sedang terjadi di sini. Boy masih setia di tempatnya sambil mengamati, seakan membiarkan gue begitu saja.
Setelah semua siap, gue berjalan ke arah pintu. Gue menatap jam tangan yang berdetik ke arah jam setengah sepuluh. Gue baru menyadari bahwa masih pagi hari, kamar ini terlalu tertutup untuk mengetahui hal tersebut.
“Sepertinya jalan kita sudah berbeda kali ini, aku tak akan mencarimu,” ucap Boy di tempatnya sambil mengamati gue yang sedang memakai high heels.
Ya, selamat tinggal, Boy. Ucap gue dalam hati dan pergi dari kamar itu tanpa meninggalkan sepatah katapun lagi

***

Seminggu lebih sudah gue tak melihat Boy, pendapatan pun makin buruk adanya. Gue harus mencari klien sendiri. Tak segan pula gue pergi ke klub-klub malam atau bahkan berjalan-jalan di tempat para saingan gue mentereng. Ternyata cukup sulit terlebih lagi saingan di luar sana ternyata memang cukup banyak.
Rasanya gue mulai merasa sendirian dalam hingar bingar lampu yang berkelap-kelip. Musik yang berdentum keras pun tak terasa menemani gue sama sekali. Segelas Martini cukup terasa lebih pahit dari biasanya. Cukup sayang bila tidak dihabiskan pikir gue, hari ini cukup melelahkan pikiran.
Apa yang sedang dilakukan Boy sekarang?
Tidur?
Atau bahkan sedang berada di tempat seperti ini sekarang?
Mengapa gue memikirkannya?
Gue pun mendesah memikirkannya. Apa memang benar yang dikatakan Boy tempo hari? Bahwa gue sudah berubah, gue mencari-cari apa yang berubah setelah perkataannya tersebut. Semakin gue mencari semakin membuat gue tersesat di pikiran sendiri.
Rasanya situasi seperti sekarang ini juga sudah bisa dikatakan sudah berubah. Bahkan gue merasa asing di tempat yang sudah berkali-kali gue kunjungi ini. Musik EDM pun terasa tak sekeras biasanya. Semua terasa berubah hanya dalam jangka beberapa hari ini saja.
“Hai!” tetiba gue mendengar ada yang menyapa.
Sejak kapan laki-laki ini berada di samping gue? Gue bahkan tak menyadari sekeliling sekarang? Gue hanya bisa tersenyum membalas sapaannya.
“Sendiri?”
Gue mengangguk, apa perlu gue berusaha dengan laki-laki ini. Dari penampilannya yang cukup berkilau di mana-mana rasanya cukup tebal dompetnya. Gue bahkan melihat kalung emasnya tersebut. Dari baunya pun gue mencium rasa yang cukup familiar dengan klien-klien gue yang lain.
“Gak ke lantai dansa?” tanyanya lagi, sepertinya laki-laki yang cukup sering bertanya. Itu pertanda baik bukan? Gue rasa kami akan berakhir di tempat tidur, pikir gue.
“Sudah tadi. Sepertinya kamu baru di sini ya?”
“Ya, baru beberapa menit yang lalu.”
Gue melihat segelas Vodka di hadapannya. Gue rasa memang benar dugaan tadi. Perlu dicoba menariknya untuk berminat.
“Mau tambah minum, biar gue yang bayar,” ucapnya setelah melihat gelas martini yang sudah setengahnya gue minum.
“Gak usah, ini saja belum habis,” kata gue sambil mengambil gelasnya dan meneguknya beberapa teguk.
Baru saja ingin menanyakan akan ke mana setelah ini, tetapi kepala gue mulai berat. Tatapan gue mulai kabur. Terasa berputar-putar, apa ini? Belum sempat gue sadari, badan mulai ikutan lemas. Laki-laki barusan seperti terlihat berteriak mengatakan sesuatu, gue tak mendengarnya. Semua indra tak berfungsi sebenarnya. Sebelum semuanya gelap gue melihat laki-laki itu tersenyum.
Damn.

***

Gue membuka mata perlahan dan melihat sosok manusia yang menyerupai binatang buas sedang menyiksa. Gue pun tanpa sadar mengerang kesakitan berkali-kali, tanpa sadar mata mulai berair dan begitu saja mengalir. Saat itu yang gue terpikirkan hanya Boy, tanpa sadar gue memanggilnya dalam erangan kesakitan ini.
Gue tak memikirkan ada di mana ini dan sebagai macamnya. Gue hanya ingin terlepas dari binatang buas ini. Berkali-kali melepaskan diri, binatang buas ini memukuli wajah gue. Berkali-kali hingga pada akhirnya gue tak dapat melakukan apa pun.
Saat sebelum tak sadarkan diri yang terbesit di bayangan gue hanya Boy.
Hingga pandangan gue hilang, kalimat itu akhirnya terucap.
Tolong gue, Boy!

***

Badan gue terasa sakit sekali. Gue membuka mata perlahan. Baru sedikit gue gerakan, badan terasa perih dan sakit. Angin yang berhembus membuatnya tambah perih dan menyayat, dingin. Gue sadar apa yang terjadi, binatang buas itu tak terlihat. Gue melihat sekeliling, tak tahu akan di mana ini berada. Semacam gudang yang tak dirawat.
Dengan sekuat tenaga gue menahan sakit memar di wajah, gue mengambil ponsel yang terlihat terdampar di samping. Dengan gemetar gue mengambilnya dan memencet layar pada angka dua, speed dial yang gue simpan.
Boy.
Tak diangkat.
“Boy, maaf. Gue, gue, tolong gue, Boy,” ucap gue sembari terisak menahan sakit. Semoga pesan suara ini didengar olehnya
Tak lama dia menelepon balik. Gue mengangkatnya dan tangis itu meledak begitu saja, gue mendengar Boy yang menyuruh tenang. Gue tak bisa, sakit ini terasa sangat-sangat menyakitkan. Berkali-kali kata maaf dan tolong terlontarkan selama air mata ini mengalir.
“Oke-oke, aku  ke sana sekarang. Kamu bisa kirim lokasi lewat ponselmu, kan? Aku ke sana sekarang,” ucapnya terdengar cemas.
Gue melakukan apa yang Boy minta, gue mengirimkan lokasi map padanya. Setelah itu pandangan gue mulai kabur dan hilang.
Begitu membuka mata perlahan gue menatap sekeliling yang serba putih. Cairan mineral tergantung di samping dengan selang yang ujungnya berakhir di lengan kiri. Dengan berat gue menatap kanan dan menemukan Boy yang tidur tertunduk di kasur.
Tanpa sadar gue mulai terisak melihatnya.
Gue merasa bersalah telah menghubunginya lagi dalam keadaan seperti ini. Yang lebih bersalahnya lagi dia menolong gue setelah apa yang terjadi tempo hari di kamarnya itu. Perpisahan yang ia ucapkan.
Boy terbangun karena isakan gue.
“Kenapa? Ada yang sakit? Aku panggil dokter dulu,” ucapnya bingung melihat gue menangis.
Gue menahan tangannya. Boy berhenti, menatap gue yang kembali terisak setelah melihat tatapannya yang hangat itu.
Gue menutup mata dengan tangan kiri, gue tak berhak mendapatkan tatapan itu setelah apa yang telah terjadi.
“Maaf, maaf, maaf,  maaf,” ucap gue berkali-kali, tak tahu tertuju pada siapa.
Entah dirinya atau bahkan untuk gue sendiri.
Boy mengusap kepala gue berkali-kali seiring kata maaf yang gue lontarkan berkali-kali. Dirinya berusaha menenangkan gue.
“Itu sudah cukup, Raina. Asal kamu sudah memaafkan dirimu sendiri, itu tandanya kamu sudah peduli pada dirimu sendiri. Itu sudah cukup, Raina,” ucapnya begitu terasa menghangatkan. Gue makin lepas menangis dan lega begitu mendengarnya.
Boy di samping sambil menggenggam tangan gue. Itu sudah cukup untuk gue.
Itu sudah lebih dari cukup.
Benar kan, Boy?

The End
---------------------------


Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com danNulisbuku.com

Friday, July 31, 2015

Aktor Pemula

Aku seorang aktor pemula, berakting dalam hidup ini.
Karena hidup adalah tempat para orang ingin mendapatkan perhatian.
Untuk itu aku berakting, walau aku yakin aku tak bisa.

Lihat mata-mata itu, aku sudah biasa merasakannya.
Mata-mata merendahkan seakan memang aku tak bisa mendapatkan perhatian mereka.
Akulah aktor pemula yang tak mengerti hidup.
Dengan begitu aku tak dapat masuk dalam lingkaran itu.
Lingkaran para aktor berbakat.
Aktor-aktor yang mementingkan khalayak banyak dibanding keinginannya sendiri.
Dengan begitu aku termasuk aktor yang egois.
Walau aku benar-benar ingin berakting layaknya mereka.
Mendapat perhatian dengan aku yang apa adanya.
Seorang aktor pemula yang tak memiliki status layaknya mereka.

Biarlah aku berkarya dengan kemampuanku yang masih minim ini.
Dan suatu saat aku tunjukkan pada mereka.
Inilah aku, seorang aktor yang tetap tak mengerti hidup ini.

Wednesday, April 29, 2015

#FFRabu - Invitation

Hari ini pulang tengah malam lagi. Ternyata memang melelahkan jadi public figure itu. Dalam perjalanan pulang, aku mengenang bagaimana perjuangan menjadi seorang penyanyi muda berbakat. Masyarakat menyebutnya begitu, walau begitu rasanya setelah sampai di posisi ini aku merasa tak nyaman.

“Oh iya, itu di jok belakang ada undangan,” kata manajer sekaligus supir.

Aku mencari yang dimaksud, ternyata sebuah surat hitam. Tak ada nama pengirim, aku mulai penasaran dan membukanya. Kertasnya hitam dan tulisannya berwarna keemasan, tertulis namaku, Denia Pramuldi. Aku membaca isinya dengan pelan dan aku menemukan sebuah foto bukti yang tertulis di isi surat, di bawahnya tertulis Deathmatch Game.

Monday, April 20, 2015

Rayuan Janjimu

Katamu kamu bisa memberiku bulan dan memberiku sinarnya bintang malam. Terkadang aku selalu menertawakanmu bila kamu sudah menjanjikan hal-hal tersebut. Bukan karena menjanjikan hal konyol itu, tetapi karena aku tahu bahwa kamu bisa melakukan apapun untukku. Seperti seseorang dalam masa laluku dulu.

“Aku bisa membawamu ke bulan itu,” serunya waktu itu.

“Haha, tak masuk akal.”

Begitu juga kau yang menjanjikan sinarnya bintang malam. Konyol, tetapi aku mempercayainya begitu saja dan memelukmu erat di hamparan pasir pantai. Waktu itu aku mulai takut, ketakutan yang sama saat aku mengetahui sebuah rahasia dirinya, masa lalu.

Kali ini berbeda, kau tidak mengikuti jejaknya. Hanya saja takdirmu yang sama dengannya. Pusaramu ini buktinya, pada akhirnya kau tidak bisa menepati janjimu itu. Janji saat aku mulai merasakan ketakutan itu.

Jangan pergi!

Lie to me
I promise I'll believe you
Lie to me
But please don't leave, don't leave
(Strong Enough - Sheryl Crow)

*Flash Fiction ini diikutkan dalam Prompt 75 Monday Flash Fiction dengan tema Are Strong Enough?
** 125 Kata (142 kata include lirik)

Friday, April 17, 2015

Kind a Game

Aku takut berada di sini. Undangan itu membawaku ke ruangan ini dengan orang-orang yang tak begitu aku kenal. Tidak semuanya, ada satu perempuan yang dulu pernah aku kenal baik. Jelas aku terkejut melihatnya di tempat yang entahlah sampai beberapa jam ini menjadi tempat yang menakutkan. Bagaimana tidak, ada sebelas orang-orang yang tak begitu ku kenal memiliki otak-otak cerdas, sama sepertiku. Bukan maksud menyombongkan diri, hanya saja mungkin karena itu jugalah aku diundang ke tempat ini. 

Sejak beberapa jam yang lalu banyak wajah-wajah cemas yang muncul dari orang-orang di sini. Termasuk aku dan perempuan tersebut, aku juga sudah berbicara dengannya beberapa menit yang lalu. Mencari solusi yang pas dan juga membicara masa lalu yang pahit, tentu saja aku tak mengatakan hal tersebut lagi setelah beberapa tahun sejak terakhir aku melihatnya. Belum begitu lama tetapi rasanya buatku lebih dari faktanya. 

Situasi makin sulit di sini, hingga kini aku berhadapan dengannya. Aku menahan napasku saat berhadapan dan menatapnya dengan lekat. Sudah lama aku tak merasakan hal ini dan dia masih begitu sama sejak terakhir aku lihat. Aku mulai cemas, dirinya juga. Tempat ini benar-benar menyeramkan. 

"Aku tak begitu yakin kita bisa di sini dalam situasi seperti ini. Bagaikan mimpi," katanya mengisi kesenyapan dan ketegangan di tempat ini. 

"Aku juga, tapi aku bersyukur bisa bertemu denganmu lagi. Bagaikan mimpi." Begitu saja terucap dengan dia tersenyum tipis dan tetap kami merasa cemas. 

"Game must be go on." 

"Yeah!" 

Setelah beberapa menit dimulai, aku terpojokkan. Semua berada di tangannya dan aku tahu akan kalah. 

"Don't cry!" ucapku dengan hati-hati dan juga tertuju juga padaku. Ya, tak terasa air mataku mengalir begitu saja seperti dirinya. 

"Pastikan kamu keluar dari sini, laporkan di balik semua ini. I know you can." 

Air matanya tambah deras, dia bersiap-siap dengan tangannya yang bergetar hebat. Pada akhirnya aku tidak bisa menolongnya dan harus melakukannya lagi padanya. Aku hanya bisa pasrah, mungkin ini takdir untuk kita yang tidak bisa bersatu dan aku merasa lemah. Ya, setelah sekian lama bertemu dengannya dan takdirku seperti ini. 

"Maaf," katanya di sela air-air matanya itu. 

Bunyi pelatuk pistol berbunyi dan ya sampai di sini sudah. Aku menutup mataku dengan pasrah dan bersiap diri. Sekian lama dan aku tetap tidak bisa mengatakan hal tersebut padanya. Mengatakan sejak saat terakhir melihatnya aku... masih mencintainya.