Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Tuesday, December 20, 2016

Malam

instagram.com/exewriyan

Bersama hujan diluar aku menari
Setiap bulir menusuk kulit perih
Buram aku melihat diri
Selama waktu terus bergulir lirih

Hitam bukan berarti luka
Putih hanya umpama kata
Kita memandang bintang di langit
Tak menyangka tak terucap lewat kata

Hujan kembali datang
Kembali aku menghitung bulir air
Hilang perih terbawa angin
Hanya lirih selalu menjumpai

Kita mulai melukis bulan
Sembari air mata bercucuran
Berbisiklah pada langit
Akan kita tunjukan kesedihan yang sejati

Sebuah cerita tentang hitam dan putih
Berkeping-keping dan lirih

Tuesday, August 30, 2016

Kisah Tentang Hujan

Bila bicara tentang hujan, aku menyebutnya memori.
Bila bicara tentang angin, aku menyebutnya kenangan.
Bila bicara tentang dingin, aku menyebutnya ciuman.
Bila bicara tentang petir, aku menyebutnya pelukan.
Bila bicara tentang basah, aku menyebutnya kehangatan.
Tapi bila bicara tentang aku, apakah kamu akan menyebutnya cinta?


*Diambil dari gallerywords.wordpress.com ^^

Saturday, July 2, 2016

Siklus Julius

Setiap hari berkurang
Perlahan kata-kata dituliskan
Bersemayam di sana penuh mimpi

Setiap bulan berhitung
Menyadari sesuatu yang abstrak
Kala semua redup penuh cahaya

Setiap tahun menanti
Hingga kupu-kupu terbang tinggi
Di sini aku merindukanmu lagi


Thursday, June 30, 2016

Rindu dengan Titik

Mana kala bunga bermekaran
Biarlah angin menerpa
Mana kala rindu ini bermekaran
Biarlah hujan yang menyapunya

sebagai titik nyata selesainya kita

Monday, June 27, 2016

Cengkeram Geram

Kala senja terbenam
Yakin hati ini temaram

Semua hanya kuasa alam

.... hingga lama membungkam
Terpuruk dalam dendam

Sunday, June 26, 2016

Hati Berbisik

Bila mana hujan rintik
Jangan pernah berbalik

Karena aku tahu hatimu tercabik

Thursday, September 24, 2015

Blue Rain


Kopi hitam pekat di depanku menguap
Menyesuaikan udara yang dingin di luar
Menemanimu yang menari indah di bawah guyuran hujan
Seakan patah hatinya menghilang sehembusan napas

Irama yang mendayu menemani kami
Berharap aku mempunyai detak yang sama
Percayalah, bintang-bintang di angkasa mengarahkanmu
Bahkan mungkin tak perlu bintang-bintang itu
Seharusnya kamu tahu, akulah tempatmu

Kemarilah
Cium aku maka tak akan pergi
Kasihmu akan selalu aku simpan
Hatiku ini siap menerimamu
Bersama segala rintik kesedihanmu bila masih tersisa

Akan ada waktunya kesedihanmu menguap
Membentuk partikel-partikel baru
Warna spektrum yang indah
Aku harap aku yang mengubah sedihmu
Menjadi saksi akan keindahanmu

Hujan ini saksinya
Awal akan spektrum
Bersama

Tuesday, June 2, 2015

[NulisRandom2015] Rindu Juni

Kisah kita di sini
Bersama agungnya sebuah cinta
Selama hati ini terpaut
Kamu akan bersama rinduku

Enam
Aku menghitungnya
Selama hati ini membara
Kamu tetap bersama rinduku

Enam
Aku melupakannya
Selama hati ini gentar
Kamu hilang bersama rinduku

Enam
Aku menunggunya
Hingga hati ini berkobar
Aku akan mencari rinduku kembali

Thursday, April 2, 2015

[Puisi] Hujan yang Lain di Awal April

Dirinya datang lagi
Bersama dengan senyum hitam
Kelam juga bersamanya
Kesendirian

Seperti dirimu
Datang membawa harapan
Bersamanya dengan senyum itu
Hitam 

Daun-daun berguguran
Saling mendahului
Meninggalkan sepucuk
Kenangan

Lagi, rintik hujan menerpa
Menghapus senyumnya
Senyummu 
Bersama dirimu

Dirinya tinggal
Menanti warna baru
Seiring menerjang sisa pucuk
Bersamanya dengan kesepian

Thursday, March 5, 2015

[Puisi] Rintik Hujan September Itu Palsu

Seperti biasa awan kali ini cerah
Sinar itu diam-diam menampakkan serunya
"Hai kamu lihat ini"
Butir-butir hujan menari
Menanti sang pujaan, awan-awan hitam

Lihatlah, mereka berkumpul ria
Sinar itu menanti bingung
Perlahan memudar, gelap
Sayang, sang mentari hilang

Tik... tik... tik...
Begitulah bunyinya
Perlahan mulai mengebu-gebu
Lihat, siapa yang berseru senang?
Si pencabut nyawa

Ah, sudah datang
Tak ada basa-basi
Hilang sudah! Hilang!

Siapa yang menantinya?
Pelangi

Tak mungkin!
Butir-butir air kembali mengguyur
Lihat, siapa yang berseru sedih?
Tak ada

Sayang, mentari mulai muncul
Pelangi sudah menjemput
Cobalah lihat langit September!
Mana hujan?

Selamat datang di neraka