Jakarta adalah jantung dan ibukota negara ini. Menjadikan kota tersibuk yang pernah ada. Populasi yang begitu banyak di dalamnya membuat banyak orang menambuh nasib di sini. Memasuki bulan Desember ibukota penuh dengan ornamen natal dan tahun baru di mana-mana. Membuat bulan ini penuh kerlap-kerlip dan harapan yang muncul setiap tahunnya.
Begitu pun denganku.
Aku memang tak pernah merayakan natal, hanya saja temanku selalu mengajakku jalan di malam natal. Tiap tahun aku selalu menunggunya, sudah menjadi kebiasaan kami merayakannya dengan cara yang lain. Semacam tahun kemarin kami melakukan kompetisi memotret hingga tengah malam. Kami mengitari kota Jakarta berdua dan memotret banyak momen di tengah hiruk pikuknya kota.
Tahun ini aku menunggu apa lagi yang akan kami lakukan di malam natal. Sebenarnya ada satu yang aku inginkan di natal tahun ini.
Aku ingin menciumnya.
Terdengar aneh bukan, tetapi aku sadar bahwa dirinya sangat berarti buatku setiap tahunnya. Tak hanya di hari natal, aku benar-benar ingin mengungkapkan rasa itu padanya. Yup, dengan menciumnya.
Entah mengapa setiap melihat temanku ini aku selalu melihat bibirnya yang menurutku kissable sekali. Mungkin terdengar sedikit pervert, tetapi aku selalu tak tahan melihat bibirnya. Jadi malam natal nanti aku ingin sekali menciumnya, merasakan lembut bibirnya walau hanya sekilas.
"Kau dengar tidak? Kita ke bioskop nanti malam, nonton."
"Eh, aah iya-iya."
Aku sampai tak mendengar temanku ini berbicara tentang rencana kami malam natal nanti.
Malam itu pun datang. Kami berdua dengan semangat pergi ke bioskop di kota, menonton film yang sudah dia tunggu-tunggu dari beberapa bulan lalu. Temanku ini paling semangat bahkan sudah membeli tiketnya lewat mobile.
Kami menonton sekitar 90 menit, kami pun keluar teater.
"Seru bukan?"
"Hmm, lumayan."
Sudah hampir tengah malam, kami pun pulang ke rumah dengan jalan yang memutar. Dalam artian sebelum sampai rumah kami pergi menikmati angin malam natal hari ini. Menikmatinya berdua, hingga aku merasa darahku mengalir deras.
Sesampai di depan rumahku aku turun dari mobil sedannya. Begitu pun temanku ini.
"Ada apa Sha?"
Aku hanya mendekatinya saat ia bertanya. Hingga wajah kami hanya terpaut beberapa senti saja. Napasnya terasa di wajahku begitu pun sebaliknya. Dengan lembut aku mendekati bibirnya.
Lembut.
Tak ada tanda penolakan, malam natal ini begitu lengkap sudah. Apapun yang terjadi setelah ini, setidaknya aku mengungkapkannya. Lengkap sudah.
Aku pun perlahan mulai mundur dan tersipu malu menatapnya.
"Terima kasih untuk malam ini, Na."
Wednesday, December 16, 2015
Tuesday, December 15, 2015
Kembalilah
Daun-daun kering melayang jatuh ke dasar
Angin melambai sejuk menelusuri jalan
Damai bibirmu saat kukecup lembut
Anganku bersamamu menjelajahi malam
Sinar rembulan bernyanyi merona
Menerangi hatimu yang capai
Detik seakan hilang dalam kamus
Bila dirimu hadir bersamaku
Malam tidak berbintang
Sejauh itu rasa cintaku
Dirimu tak perlu tahu
Caraku memetik bintang
Hanya untukmu
Dan pagi datang dengan tersenyum
Merenggut semua keindahan yang berkelip
Kamu terbangun di pelukku
Aku berharap begitu setiap pagi
Hanyut aku dalam kenyataan pahit
Angin melambai sejuk menelusuri jalan
Damai bibirmu saat kukecup lembut
Anganku bersamamu menjelajahi malam
Sinar rembulan bernyanyi merona
Menerangi hatimu yang capai
Detik seakan hilang dalam kamus
Bila dirimu hadir bersamaku
Malam tidak berbintang
Sejauh itu rasa cintaku
Dirimu tak perlu tahu
Caraku memetik bintang
Hanya untukmu
Dan pagi datang dengan tersenyum
Merenggut semua keindahan yang berkelip
Kamu terbangun di pelukku
Aku berharap begitu setiap pagi
Hanyut aku dalam kenyataan pahit
-2015-
Tahun 2015 sudah mendekati akhir. Tak banyak yang terjadi dalam tahun 2015 untuk saya pribadi. Tahun ini bisa saya bila menjadi tahun merenungku, tahun membebaskan, tahun penyembuhan akan apa yang telah terjadi. Tak banyak yang kudapat dari tahun ini, bahkan aku meragukannya. Aku tahu apa yang telah terjadi di sini, dalam hidupku. Dari aku yang mengecewakan banyak orang hingga aku yang sedang mengintropeksi diri.
Awalnya aku berteguh diri mengambil keputusan ini. Kembali untuk fokus pada impian yang telah kutetapkan dan kukejar. Hanya saja tak sebegitu mudah yang dibayangkan. Aku sadar bahwa aku sudah tertinggal di belakang dengan orang-orang yang menurutku sangat hebat. Teman-teman sebaya, orang-orang di lingkunganku, dan bahkan orang-orang yang belum pernah kutemui tetapi aku mengenal karya mereka.
Target tahun 2015 ini untuk menyelesaikan satu novel pun mungkin terancam tak tercapai. Bahkan dengan waktu yang sebanyak ini telah kupunya aku tak bisa menyelesaikannya. Aku sadar bahwa aku sedang di performa terburukku. Hingga muncul rasa takut, tak percaya diri, hingga rasa bersalah. Aku merasa bersalah pada diriku sendiri yang membuang-buang waktuku selama setahun ini, hal ini membuat motivasiku menurun.
Tak seperti yang kubayangkan di awal.
Saat ini aku sadar bahwa aku telah tertinggal oleh banyak orang begitu pun performaku yang menurun. Hingga aku berpikir apa aku memang tidak bisa menulis sebuah cerita lagi? Apa aku memang tak bisa menulis? Apa mungkin penulis bukan ide yang tepat? Aku merenungkan hal-hal semacam itu di tahun ini.
Beberapa bulan lalu aku mendapat sebuah surat yang mengingatkanku bahwa sudah dua tahun aku tak menghasilkan novel lagi sejak novel pertamaku, BaseLove. Surat yang mempunyai dua mata pisau. Di satu sisinya aku sadar bahwa menjadi seorang penulis itu tak sesimpel dan semudah itu. Hal ini membuatku sedikit membakar motivasiku. Di sisi yang lain aku sadar aku telah mengecewakan diriku sendiri dan banyak orang. Itu membuatku sedih.
Dan entah mengapa datang di saat yang tidak tepat. Di saat performa terburukku. Aku mulai meragukan keputusan yang kubuat. Dan entah mengapa pula di sisi yang lain aku seperti tertampar dan ingin mulai bersemangat lagi. Ingin membuat keputusan yang kubuat ini adalah hal yang tepat dan benar. Setidaknya untuk ku pribadi, aku tahu banyak yang menilai keputusan ini salah.
Jalan ku masih panjang. Aku belum merasa puas dengan aku yang sekarang, itu jelas. Aku berusaha membenah diriku untuk tahun 2016. Rasanya aku merasakan sedikit harapan di tahun 2016 nanti. Banyak yang ingin kulakukan, dari menyelesaikan novel hingga ingin mengerjakan tentang Nest Stripes yang akhir-akhir ini sedang aku siapkan.
Aku berharap 2016 ini akan menjadi tahun yang benar-benar baru untukku. Tahun penataan kembali, tahun penyempurnaan, dari tahun 2015 ini.
SEMANGAT!!!
note: mungkin aku akan rajin-rajin nulis di blog. ssst, aku tak akan sharing ke medsos. rajin-rajinlah datang ke blogku :p.
Awalnya aku berteguh diri mengambil keputusan ini. Kembali untuk fokus pada impian yang telah kutetapkan dan kukejar. Hanya saja tak sebegitu mudah yang dibayangkan. Aku sadar bahwa aku sudah tertinggal di belakang dengan orang-orang yang menurutku sangat hebat. Teman-teman sebaya, orang-orang di lingkunganku, dan bahkan orang-orang yang belum pernah kutemui tetapi aku mengenal karya mereka.
Target tahun 2015 ini untuk menyelesaikan satu novel pun mungkin terancam tak tercapai. Bahkan dengan waktu yang sebanyak ini telah kupunya aku tak bisa menyelesaikannya. Aku sadar bahwa aku sedang di performa terburukku. Hingga muncul rasa takut, tak percaya diri, hingga rasa bersalah. Aku merasa bersalah pada diriku sendiri yang membuang-buang waktuku selama setahun ini, hal ini membuat motivasiku menurun.
Tak seperti yang kubayangkan di awal.
Saat ini aku sadar bahwa aku telah tertinggal oleh banyak orang begitu pun performaku yang menurun. Hingga aku berpikir apa aku memang tidak bisa menulis sebuah cerita lagi? Apa aku memang tak bisa menulis? Apa mungkin penulis bukan ide yang tepat? Aku merenungkan hal-hal semacam itu di tahun ini.
Beberapa bulan lalu aku mendapat sebuah surat yang mengingatkanku bahwa sudah dua tahun aku tak menghasilkan novel lagi sejak novel pertamaku, BaseLove. Surat yang mempunyai dua mata pisau. Di satu sisinya aku sadar bahwa menjadi seorang penulis itu tak sesimpel dan semudah itu. Hal ini membuatku sedikit membakar motivasiku. Di sisi yang lain aku sadar aku telah mengecewakan diriku sendiri dan banyak orang. Itu membuatku sedih.
Dan entah mengapa datang di saat yang tidak tepat. Di saat performa terburukku. Aku mulai meragukan keputusan yang kubuat. Dan entah mengapa pula di sisi yang lain aku seperti tertampar dan ingin mulai bersemangat lagi. Ingin membuat keputusan yang kubuat ini adalah hal yang tepat dan benar. Setidaknya untuk ku pribadi, aku tahu banyak yang menilai keputusan ini salah.
Jalan ku masih panjang. Aku belum merasa puas dengan aku yang sekarang, itu jelas. Aku berusaha membenah diriku untuk tahun 2016. Rasanya aku merasakan sedikit harapan di tahun 2016 nanti. Banyak yang ingin kulakukan, dari menyelesaikan novel hingga ingin mengerjakan tentang Nest Stripes yang akhir-akhir ini sedang aku siapkan.
Aku berharap 2016 ini akan menjadi tahun yang benar-benar baru untukku. Tahun penataan kembali, tahun penyempurnaan, dari tahun 2015 ini.
SEMANGAT!!!
note: mungkin aku akan rajin-rajin nulis di blog. ssst, aku tak akan sharing ke medsos. rajin-rajinlah datang ke blogku :p.
Saturday, November 21, 2015
Next to Me
Kamar ini terlalu megah
untuk gue. Gue bahkan kaget saat diajak ke sini, tak percaya bahwa klien kali
ini ternyata benar-benar berduit. Gue mengambil ponsel di coffee
table dekat kasur, memeriksa jam. Jam dua dini hari, ternyata sudah
sejam berada di kamar ini. Di kamar mandi terdengar air gemercik, laki-laki
yang gue lupa namanya, entah Fredie atau Fendi sepertinya sedang membilas
tubuh. Gue tanpa sengaja melihat segepok uang yang dia siapkan tadi di atas coffee
table. Gue mengambilnya malas dan gue tak perlu menghitungnya kembali. Bisa
menyewa kamar megah seperti ini tak mungkin tidak bisa membayar atas permainan
yang hampir sejam barusan.
Sepertinya laki-laki
yang sedikit bertambun itu sudah selesai dengan kamar mandinya. Gue juga
mendengar pintu kamar terbuka dan tertutup. Sepertinya laki-laki tersebut sudah
meninggalkan kamar ini dan gue sendirian sekarang. Gue hanya perlu check
out pagi nanti dan menyuruh Boy untuk menjemput. Selama waktu itu gue
tak bisa tertidur bahkan sesudah membilas tubuh sekalipun, karena sangat
disayangkan bila kamar ini hanya untuk ditiduri saja. Kapan lagi coba menikmati
sebotol wine yang disiapkan klien gue saat ditawari pihak
hotel tadi. Maka dari itu gue sudah mengirim pesan untuk Boy untuk menjemput nanti pagi.
Saat pagi datang dengan
sisa-sisa alcohol yang ada gue bersiap keluar dari kamar ini dan check
out. Boy juga sudah berkali-kali menelepon dan tak gue angkat, sepertinya
ia sudah berada di lobby. Benar saja, Boy langsung menghampiri saat selesai
dengan resepsionis.
“Wow-wow, aku mencium alcohol.
Kau minum?” ucapnya pertama kali, salahkan dia yang benar-benar mencari klien
yang berduit dan tahu caranya menghamburkan uangnya.
“Salahkan klien yang
kamu temui itu, dia benar-benar boros. Gue hampir menghambiskannya setengah
botol.”
“Tapi gak lupakan sama
bagianku, sepuluh persennya,” ucapnya menyebalkan dengan menengadah tangan
kanannya.
Gue langsung mengambil
amplop di tas jinjing yang sudah disiapkan atau disisihkan hasil uang yang gue dapat
untuknya. Tak lama setelah itu gue tak begitu ingat karena mungkin gue tertidur
dan juga efek alcohol gue sudah berada di kamarnya. Gue
melihat Boy yang sedang meletakkan masakannya di meja makan.
“Sudah bangun? Ini ada
sop gitu, makan yuk!”
Mau gak mau gue berjalan
dan duduk manis di hadapannya. Gue pun menyuapkan sendok ke dalam mulut,
mengunyahnya. Masakannya Boy selalu bisa membuat gue nambah hingga tak sadar
bahwa berat badan juga ikut nambah. Perlahan sakit kepala gue juga mulai
hilang.
“Kamu tahu, sebenarnya
kamu bisa saja berhenti dari ini semua kalau mau, Raina.”
Gue tak tahu tiba-tiba
saja Boy mengatakan ini. Padahal dia sendiri di awal yang menawari semua ini
terlebih lagi gue memang butuh duit. Siapa sih yang tak butuh duit sekarang
ini? Semua hal butuh duit. Begitu pula Boy, gue yakin dia butuh duit juga.
“Aku dapat banyak
masukan dari beberapa klien kalau kamu ini terkadang mengintimidasi mereka
akhir-akhir ini.”
Di sini sudah tak masuk
akal menurut gue. Mereka menikmatinya dan mereka bilang begitu padanya? Apa sih
semua laki-laki ini?
“Jadi kamu suruh gue
berhenti?” tanya gue tak sabar.
“Bukan kamu, tapi kita.
Aku juga akan berhenti, Raina.”
“Kenapa?” tanya gue kali
ini kaget mendengar pernyataan tersebut.
“Aku ini cuma seorang
amatir, Raina. Di luar sana masih banyak yang lebih professional dariku.
Terlebih lagi aku merasa bersalah melihatmu yang sekarang, Raina.”
Gue benar-benar tak
mengerti semua ini. Rasanya yang ia katakan ini terasa non-sense.
Ia bersalah akan apa? Di luar banyak yang lebih professional, so what?
Who care about it? Selama uang masuk gue gak mempermasalahkan hal
tersebut.
“Kamu ingat pertama kali
kamu datang dan bercerita tentang masalahmu dengan uang. Saat itu aku berharap
bahwa aku tidak membeberkan identitasku ini. Sayangnya aku menawarkannya dan
kamu menerimanya dengan entengnya. Aku menyesal karena itu.”
Gue mulai gak nafsu
nambah makan lagi. Sayang saja nasi yang gue ambil tersiakan begitu saja. Ini
benar-benar gak masuk akal.
“Menyesal bagaimana,
kamu dapat bagiannya juga kan?”
“Ini yang aku maksud,
Raina. Kamu hanya memikirkan uang saja. Kamu sudah berubah, Raina dan aku tanpa
sadar ikut campur akan hal itu.”
Boy yang tetap menatap
dengan tatapannya itu membuat gue merasa tak tahu akan maksud dari semua
pembicaraan ini. Gue pun berdiri dan segera bergegas mengambil tas, ingin
rasanya keluar dari apa yang sedang terjadi di sini. Boy masih setia di
tempatnya sambil mengamati, seakan membiarkan gue begitu saja.
Setelah semua siap, gue
berjalan ke arah pintu. Gue menatap jam tangan yang berdetik ke arah jam
setengah sepuluh. Gue baru menyadari bahwa masih pagi hari, kamar ini terlalu
tertutup untuk mengetahui hal tersebut.
“Sepertinya jalan kita
sudah berbeda kali ini, aku tak akan mencarimu,” ucap Boy di tempatnya sambil
mengamati gue yang sedang memakai high heels.
Ya, selamat tinggal,
Boy. Ucap gue dalam hati dan pergi dari kamar itu tanpa meninggalkan sepatah
katapun lagi
***
Seminggu lebih sudah gue
tak melihat Boy, pendapatan pun makin buruk adanya. Gue harus mencari klien
sendiri. Tak segan pula gue pergi ke klub-klub malam atau bahkan berjalan-jalan
di tempat para saingan gue mentereng. Ternyata cukup sulit terlebih lagi
saingan di luar sana ternyata memang cukup banyak.
Rasanya gue mulai merasa
sendirian dalam hingar bingar lampu yang berkelap-kelip. Musik yang berdentum
keras pun tak terasa menemani gue sama sekali. Segelas Martini cukup terasa
lebih pahit dari biasanya. Cukup sayang bila tidak dihabiskan pikir gue, hari
ini cukup melelahkan pikiran.
Apa yang sedang
dilakukan Boy sekarang?
Tidur?
Atau bahkan sedang
berada di tempat seperti ini sekarang?
Mengapa gue
memikirkannya?
Gue pun mendesah
memikirkannya. Apa memang benar yang dikatakan Boy tempo hari? Bahwa gue sudah
berubah, gue mencari-cari apa yang berubah setelah perkataannya tersebut.
Semakin gue mencari semakin membuat gue tersesat di pikiran sendiri.
Rasanya situasi seperti
sekarang ini juga sudah bisa dikatakan sudah berubah. Bahkan gue merasa asing
di tempat yang sudah berkali-kali gue kunjungi ini. Musik EDM pun terasa tak
sekeras biasanya. Semua terasa berubah hanya dalam jangka beberapa hari ini
saja.
“Hai!” tetiba gue
mendengar ada yang menyapa.
Sejak kapan laki-laki
ini berada di samping gue? Gue bahkan tak menyadari sekeliling sekarang? Gue
hanya bisa tersenyum membalas sapaannya.
“Sendiri?”
Gue mengangguk, apa
perlu gue berusaha dengan laki-laki ini. Dari penampilannya yang cukup berkilau
di mana-mana rasanya cukup tebal dompetnya. Gue bahkan melihat kalung emasnya
tersebut. Dari baunya pun gue mencium rasa yang cukup familiar dengan
klien-klien gue yang lain.
“Gak ke lantai dansa?”
tanyanya lagi, sepertinya laki-laki yang cukup sering bertanya. Itu pertanda
baik bukan? Gue rasa kami akan berakhir di tempat tidur, pikir gue.
“Sudah tadi. Sepertinya
kamu baru di sini ya?”
“Ya, baru beberapa menit
yang lalu.”
Gue melihat segelas
Vodka di hadapannya. Gue rasa memang benar dugaan tadi. Perlu dicoba menariknya
untuk berminat.
“Mau tambah minum, biar
gue yang bayar,” ucapnya setelah melihat gelas martini yang sudah setengahnya
gue minum.
“Gak usah, ini saja
belum habis,” kata gue sambil mengambil gelasnya dan meneguknya beberapa teguk.
Baru saja ingin
menanyakan akan ke mana setelah ini, tetapi kepala gue mulai berat. Tatapan gue
mulai kabur. Terasa berputar-putar, apa ini? Belum sempat gue sadari, badan
mulai ikutan lemas. Laki-laki barusan seperti terlihat berteriak mengatakan
sesuatu, gue tak mendengarnya. Semua indra tak berfungsi sebenarnya. Sebelum
semuanya gelap gue melihat laki-laki itu tersenyum.
Damn.
***
Gue membuka mata
perlahan dan melihat sosok manusia yang menyerupai binatang buas sedang
menyiksa. Gue pun tanpa sadar mengerang kesakitan berkali-kali, tanpa sadar
mata mulai berair dan begitu saja mengalir. Saat itu yang gue terpikirkan hanya
Boy, tanpa sadar gue memanggilnya dalam erangan kesakitan ini.
Gue tak memikirkan ada
di mana ini dan sebagai macamnya. Gue hanya ingin terlepas dari binatang buas
ini. Berkali-kali melepaskan diri, binatang buas ini memukuli wajah gue.
Berkali-kali hingga pada akhirnya gue tak dapat melakukan apa pun.
Saat sebelum tak
sadarkan diri yang terbesit di bayangan gue hanya Boy.
Hingga pandangan gue
hilang, kalimat itu akhirnya terucap.
Tolong gue, Boy!
***
Badan gue terasa sakit
sekali. Gue membuka mata perlahan. Baru sedikit gue gerakan, badan terasa perih
dan sakit. Angin yang berhembus membuatnya tambah perih dan menyayat, dingin.
Gue sadar apa yang terjadi, binatang buas itu tak terlihat. Gue melihat
sekeliling, tak tahu akan di mana ini berada. Semacam gudang yang tak dirawat.
Dengan sekuat tenaga gue
menahan sakit memar di wajah, gue mengambil ponsel yang terlihat terdampar di
samping. Dengan gemetar gue mengambilnya dan memencet layar pada angka dua,
speed dial yang gue simpan.
Boy.
Tak diangkat.
“Boy, maaf. Gue, gue,
tolong gue, Boy,” ucap gue sembari terisak menahan sakit. Semoga pesan suara
ini didengar olehnya
Tak lama dia menelepon
balik. Gue mengangkatnya dan tangis itu meledak begitu saja, gue mendengar Boy
yang menyuruh tenang. Gue tak bisa, sakit ini terasa sangat-sangat menyakitkan.
Berkali-kali kata maaf dan tolong terlontarkan selama air mata ini mengalir.
“Oke-oke, aku ke
sana sekarang. Kamu bisa kirim lokasi lewat ponselmu, kan? Aku ke sana
sekarang,” ucapnya terdengar cemas.
Gue melakukan apa yang
Boy minta, gue mengirimkan lokasi map padanya. Setelah itu pandangan gue mulai
kabur dan hilang.
Begitu membuka mata
perlahan gue menatap sekeliling yang serba putih. Cairan mineral tergantung di
samping dengan selang yang ujungnya berakhir di lengan kiri. Dengan berat gue
menatap kanan dan menemukan Boy yang tidur tertunduk di kasur.
Tanpa sadar gue mulai
terisak melihatnya.
Gue merasa bersalah
telah menghubunginya lagi dalam keadaan seperti ini. Yang lebih bersalahnya
lagi dia menolong gue setelah apa yang terjadi tempo hari di kamarnya itu.
Perpisahan yang ia ucapkan.
Boy terbangun karena
isakan gue.
“Kenapa? Ada yang sakit?
Aku panggil dokter dulu,” ucapnya bingung melihat gue menangis.
Gue menahan tangannya.
Boy berhenti, menatap gue yang kembali terisak setelah melihat tatapannya yang
hangat itu.
Gue menutup mata dengan
tangan kiri, gue tak berhak mendapatkan tatapan itu setelah apa yang telah
terjadi.
“Maaf, maaf, maaf, maaf,”
ucap gue berkali-kali, tak tahu tertuju pada siapa.
Entah dirinya atau
bahkan untuk gue sendiri.
Boy mengusap kepala gue
berkali-kali seiring kata maaf yang gue lontarkan berkali-kali. Dirinya
berusaha menenangkan gue.
“Itu sudah cukup, Raina.
Asal kamu sudah memaafkan dirimu sendiri, itu tandanya kamu sudah peduli pada
dirimu sendiri. Itu sudah cukup, Raina,” ucapnya begitu terasa menghangatkan.
Gue makin lepas menangis dan lega begitu mendengarnya.
Boy di samping sambil
menggenggam tangan gue. Itu sudah cukup untuk gue.
Itu sudah lebih dari
cukup.
Benar kan, Boy?
The End
---------------------------
Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com danNulisbuku.com
Saturday, November 14, 2015
Jarak Kita
Aku menatap senja sore itu, sinar jingga itu terlihat indah. Kamu tahu mengapa? Karena sore itu kamu begitu bahagia. Senyum tak bisa lepas dari wajahmu, sore itu aku ikut bahagia karena melihatnya.
Kemudian aku menatap bintang malam sesudah hari itu. Berkelip sendu, kamu tahu mengapa? Karena malam itu kamu begitu lepas, sangat terbalik dengan sehari yang lalu. Air matamu bersarang di sehelai kain kemejaku.
Dan kemarin kamu datang secepat badai angin saat itu. Berantakan, membawa benda tajam itu di tanggan kananmu. Mengarahkannya ke wajahku, aku berdiam diri menatapmu. Tanganmu kugenggam erat.
Bila kalau aku pergi, di hadapanku hanya cuma kamu.
Berhentilah, aku rindu.
Sore ini sinar jingga tampak redup. Senyummu terlihat pilu. Begitu juga aku.
Lalu, bila kamu pergi siapa yang akan ada di hadapanku kini?
Thursday, September 24, 2015
Blue Rain
Menyesuaikan udara yang dingin di luar
Menemanimu yang menari indah di bawah guyuran hujan
Seakan patah hatinya menghilang sehembusan napas
Irama yang mendayu menemani kami
Berharap aku mempunyai detak yang sama
Percayalah, bintang-bintang di angkasa mengarahkanmu
Bahkan mungkin tak perlu bintang-bintang itu
Seharusnya kamu tahu, akulah tempatmu
Kemarilah
Cium aku maka tak akan pergi
Kasihmu akan selalu aku simpan
Hatiku ini siap menerimamu
Bersama segala rintik kesedihanmu bila masih tersisa
Akan ada waktunya kesedihanmu menguap
Membentuk partikel-partikel baru
Warna spektrum yang indah
Aku harap aku yang mengubah sedihmu
Menjadi saksi akan keindahanmu
Hujan ini saksinya
Awal akan spektrum
Bersama
Friday, August 21, 2015
Tanpa Judul
Aku akan menghilang sejenak
Dan ketika aku siap, aku akan bersembunyi
Di balik layar memantau
Dan ketika aku siap lagi, aku akan muncul
Bersama dengan kode-kode yang telah kukasih
Pecahkanlah dan aku akan senantiasa menjelaskan semuanya
Walau semuanya sudah tertulis di kode-kode tersebut
Subscribe to:
Posts (Atom)
